Di UPH, Menristekdikti Tekankan Pentingnya Riset dan Daya Saing Bangsa

Kompas.com - 27/06/2019, 20:44 WIB
Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan Seminar Nasional Sains, Rekayasa, dan Teknologi (SNSRT) di kampus UPH Lippo Karawaci pada Rabu (26/6/2019) dan dibuka oleh Menristekdikti Mohamad Nasir. Dok. Kompas.comUniversitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan Seminar Nasional Sains, Rekayasa, dan Teknologi (SNSRT) di kampus UPH Lippo Karawaci pada Rabu (26/6/2019) dan dibuka oleh Menristekdikti Mohamad Nasir.

KOMPAS.com - Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan "Seminar Nasional Sains, Rekayasa, dan Teknologi" (SNSRT) di kampus UPH Lippo Karawaci pada Rabu (26/6/2019).

Dalam pidato pembukaan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengungkapkan mengenai pentingnya riset dan tantangan ketahanan pangan, kesehatan, serta mitigasi kebencanaan pada era industri 4.0.

Menteri Nasir pun mengatakan Indonesia harus memiliki masterplan of national research. Maka dari itu, dia telah menetapkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) Tahun 2017-2045 yang mencakup 10 bidang strategis yang harus diperhatikan, antara lain masalah ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan dan kebencanaan.

Daya saing bangsa

Kesehatan jangan hanya dinikmati oleh orang kota. Semua orang harus bisa menikmati kesehatan dengan baik. Pendidikan kesehatan harus bisa menyebar dan ini akan menjadikan layanan kesehatan semakin baik,” ujar Mohamad Nasir dalam keterangan tertulis, Kamis (27/6/2019).

Baca juga: Soal Ijazah Palsu, Menristek: Proses Saja, Tidak Boleh Menipu Masyarakat

Namun, lanjutnya, hal itu menghadapi tantangan berat di Indonesia, misalnya upaya masyarakat agar tetap selamat dari bencana, kebutuhan pangan terpenuhi dengan baik, dan kesehatan tetap terjaga.

Menteri pun mengingatkan tantangan dalam dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas melalui pencanangan national competitiveness atau daya saing bangsa.

“Di dalam daya saing bangsa itu yang selalu saya tetapkan adalah bagaimana kualitas pendidikan perguruan tinggi pada masa yang akan datang mampu bersaing dan menciptakan para lulusan yang berkualitas dalam bersaing di kelas dunia,” ucap M Nasir.

SRSNT UPH

Sehubungan dengan itu, dia memberi apresiasi UPH karena sudah memberikan dukungan kepada pemerintah melalui program studi terkait dengan kesehatan, seperti kedokteran serta kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Rektor UPH Jonathan L Parapak menyambut baik berbagai arahan penting Menristekdikti Mohamad Nasir kepada para mahasiswa UPH dan peserta SNSRT yang berhubungan tema seminar tersebut.

“Hasil dari seminar ini diharapkan menjadi masukan-masukan penting bagi pemerintah, masyarakat, dan peneliti untuk muncul atau tampil dengan gagasan-gagasan yang penting untuk perbaikan pertanian pangan, ketahanan kesehatan, dan mitigasi,” ungkap Rektor.

SNSRT UPH ketiga ini digelar pada 26-27 Juni 2019. Tercatat sebanyak 300 peserta mengikuti, antara lain 81 pemakalah dari 20 perguruan tinggi di Indonesia dan institusi pemerintah.

Selain itu, ada beberapa pembicara utama, yaitu Appointed Actuary BPJS Kesehatan Ocke Kurniandi, Guru Besar Ekonomi Pertanian UNILA Dewan Komisioner dan Ekonomi Senior INDEF Bustanul Arifin, dan Hirotaka Futamura dari Nippon Steel Metal Products Co, Ltd.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X