Libatkan 10 Negara, Kemendikbud Gelar Festival Tari Kontemporer ASEAN

Kompas.com - 13/07/2019, 20:27 WIB
ASEAN Contemporary Dance Festival (ACDF) 2019.DOK. KEMENDIKBUD ASEAN Contemporary Dance Festival (ACDF) 2019.

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menggelar ASEAN Contemporary Dance Festival (ACDF) pada 9-15 Juli 2019 di Kota Yogyakarta. Acara ini merupakan kerja sama dengan Sekretariat ASEAN sebagai ajang pertunjukan dan dialog mengenai tari kontemporer tingkat regional.

Ada 10 negara ASEAN terlibat, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi acara ini karena memiliki sejarah dan kontribusi berkesinambungan dalam penciptaan dan pengembangan kebudayaan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga di kawasan ASEAN.

Selain itu, Yogyakarta juga sudah ditetapkan sebagai Kota Budaya ASEAN (ASEAN City of Culture) untuk periode 2018-2020 pada sidang kedelapan menteri-menteri kebudayaan se-ASEAN tahun lalu.

Baca juga: Serentak, Festival Panji Nusantara 2019 Digelar di Empat Kota

Dua lokasi penyelenggaraan ajang tersebut yakni di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Bertukar wawasan budaya

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly mengatakan kebudayaan merupakan salah satu pilar penting dalam upaya negara-negara anggota ASEAN memperkuat solidaritas dan meningkatkan kesepahaman sebagai satu komunitas.

"Melalui perhelatan ACDF ini, kita semua yang terlibat diharapkan mampu menghasilkan gagasan dan terobosan yang menarik dalam upaya pemerintah, komunitas, dan para seniman di 10 negara anggota ASEAN untuk memajukan kebudayaan, khususnya dalam bentuk seni tari,” ujar Nadjamuddin melalui keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Dia menambahkan, acara ini menjadi bagian perwujudan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mengamanatkan pemerintah Indonesia berperan aktif dalam meningkatkan kerja sama internasional di bidang kebudayaan dan memperkokoh ekosistem kebudayaan, baik di dalam negeri maupun antar-negara.

Diharapkan melalui festival ini semua peserta dapat bertukar wawasan dan pengalaman dalam pengembangan tari kontemporer di negara masing-masing.

Di samping itu, tari kontemporer di ASEAN juga diharapkan tetap berpijak pada kekuatan budaya yang sudah ada di setiap negara dan dikembangkan dalam bentuk tarian yang lebih modern.

Platform "Indonesiana"

Sejumlah pihak terlibat pada event ini antara lain seniman, budayawan, dan masyarakat umum, serta mahasiswa yang bisa menyaksikan dan berpartisipasi pada workshop dan seminar.

Adapun pertunjukan tari yang menjadi puncak acara digelar pada Sabtu (13/7/2019) di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma yang dibuka gratis untuk umum.

Pertunjukan menampilkan tari “Grisadha” dari mahasiswa Universitas Sanata Dharma, 10 tari kontemporer setiap negara ASEAN, mahasiswa residen Universitas Sanata Dharma, dan tari kontemporer kolaborasi semua delegasi ACDF sebagai penampilan utama.

Setelah itu, para delegasi ACDF juga tampil dalam acara "Java International Folklore" (JiFolk) pada Minggu (14/7/2019) di Alun-alun Kota Temanggung.

Perhelatan ini menjadi bagian dari "Festival Sindoro Sumbing" yang merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Wonosobo di bawah platform "Indonesiana" yang diinisiasi Kemendikbud.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X