Kompetensi Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi

Kompas.com - 18/07/2019, 20:32 WIB
Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut perlunya keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam penguatan pendidikan vokasi di sela-sela Seminar Revitalitasi Pendidikan Tinggi Vokasi yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta (17/7/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARManaging Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut perlunya keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam penguatan pendidikan vokasi di sela-sela Seminar Revitalitasi Pendidikan Tinggi Vokasi yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta (17/7/2019).

KOMPAS.com - Presiden terpilih pada Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi) mengangkat tema pendidikan vokasi sebagai isu penting peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia dalam periode ke-2 pemerintahnya. 

Dalam pidato pertamanya di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu (14/7/2019) malam. Jokowi mengatakan beberapa tahapan besar yang akan dia lakukan bersama wakil presiden terpilih Ma'ruf Amin membuat Indonesia lebih produktif, memiliki daya saing, dan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi perubahan di dunia.

Pendidikan vokasi menjadi satu hal yang disampaikannya mengenai pembangunan sumber daya manusia (SDM), antara lain melakukan peningkatan kualitas pendidikan dengan mementingkan pelatihan dan sekolah vokasi.

“Kualitas pendidikannya juga akan terus kita tingkatkan. Bisa dipastikan pentingnya vocational training, pentingnya vocational school,” ujar Jokowi dalam pidatonya.

Kata kunci: kompetensi

Menjawab ajakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut perlunya keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam penguatan pendidikan vokasi.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Jokowi Angkat 4 Isu Besar

"Sangat penting pendidikan vokasi ini karena saat ini belum ada link and match-nya. Kebutuhan dunia usaha sebagai demand-nya dengan pendidikan tinggi sebagai supply-nya tidak sama," ungkap Sulistiyanto di sela-sela "Seminar Revitalitasi Pendidikan Tinggi Vokasi" yang digelar di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta (17/7/2019).

Melalui pendidikan vokasi ini, lanjut Sulistiyanto, dunia usaha dapat membangun lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

"Seperti kerjasama dengan Swiss, kami melakukan kerja sama untuk (pendidikan vokasi) batu bara dan sawit. Kami mendatangkan dosen dari luar untuk melatih dan mendidik sehingga lulusannya nanti tidak hanya mendapatkan ijazah kelulusan namun juga sertifikat kompetensi. Kompetensi di sini yang penting menjadi kata kuncinya" jelasnya.

Darurat kebutuhan SDM Vokasi

Senelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan di Indonesia masih banyak membutuhkan SDM vokasi unggul yang memiliki kompetensi dan sertifikasi profesi.

"Kalau kita lihat struktur dari sumber daya manusia kita dari para tenaga kerja kita, ternyata cukup mengkhawatirkan. Total tenaga kerja kita dari data Kementerian Tenaga Kerja, ada 130 juta orang, dimana 40 persen latar belakang pendidikannya sekolah dasar," jelas Ketua KADIN.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X