Hari Anak Nasional: Keluarga Harus Membuat Anak Bergembira

Kompas.com - 24/07/2019, 21:51 WIB
Ilustrasi keluarga yang sedang menonton televisi di rumah. ThinkstockIlustrasi keluarga yang sedang menonton televisi di rumah.

KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen-PPA) menetapkan tema besar Hari Anak Nasional (HAN) 2019 adalah Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak.

Selain itu ada pula tagline yang akan didengungkan: Kita Anak Indonesia, Kita Gembira! #KitaGembira untuk mengajak seluruh warga Indonesia merayakan dan merenungkan kembali tentang pelindungan anak dalam keluarga.

Rita Pranawati, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyambut Hari Anak Nasional Tahun 2019, seperti yang dikutip dari situs kpai.go.id menyampaikan orangtua perlu membuat anak bergembira dengan cara membuka dialog.

Baca juga: Stop Diskriminasi Anak dengan HIV di Sekolah

 

Dalam dialog itu, orangtua dan anak berada pada posisi setara, memperlakukan anak sebagai ”orang merdeka” yang perlu didengar suara dan mimpi-mimpinya. Orangtua juga dengan mudah mengapresiasi kelebihan dan bakat anak.

Menyiapkan sosok tangguh

Lebih jauh Rita menyampaikan tagline itu sebangun dengan tema HAN tahun ini, yaitu Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak. Menurutnya, anak Indonesia memang perlu dan layak bergembira, karena mereka hidup di tanah yang subur.

Anak-anak Indonesia berhak dan layak hidup gembira karena bisa bermain, bersahabat, dan bertumbuh bersama alam lestari Nusantara. ”Mereka senantiasa mensyukuri anugerah alam raya Indonesia yang melimpah dari Tuhan,” ujarnya.

Namun, Rita menyayangkan beberapa siaran televisi yang cenderung menampilkan narasi kekerasan terhadap anak. Seperti perkelahian, tawuran, pelecehan seksual, perundungan, dan sebagainya. 

Padahal anak-anak adalah pewaris cita-cita Republik Indonesia yang akan menjadi pemimpin Indonesia. Karena itu, orangtua perlu mempersiapkan anak-anak menjadi sosok tangguh di masa depan. Salah satunya dengan menggembirakan mereka.

PPDB dan sekolah idaman

 

”Kegembiraan anak pada dasarnya merupakan wajah syukur orangtua. Syukur atas anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya. Inilah yang kemudian mendorong orangtua untuk terus melakukan usaha maksimal dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup anak-anaknya,”  jelas Rita. 

Dalam upaya memberikan kegembiraan pada anak itu, Rita sedikit mengritisi para orangtua yang protes pada pemerintah atas pemberlakukan sistem zonasi pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu lalu.

Para orangtua menilai pemerintah tidak menghargai jerih payah anak yang telah memperoleh nilai tinggi di sekolah sebelumnya. Pemerintah pun dianggap menghalangi mimpi anak untuk dapat sekolah di lembaga pendidikan idaman.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X