Masuk Universitas Kelas Dunia lewat Kompetisi dan Penelitian Internasional

Kompas.com - 09/08/2019, 20:53 WIB
Alfian Edgar Tjandra dan Farrel Dwireswara Salim mewakili Indonesia  di IMO (International Mathematical Olympiad), dan berhasil meraih medali perak dan perunggu di Bath, Inggris Raya, pada 11-22 Juli 2019. DOK. KHARISMA BANGSAAlfian Edgar Tjandra dan Farrel Dwireswara Salim mewakili Indonesia di IMO (International Mathematical Olympiad), dan berhasil meraih medali perak dan perunggu di Bath, Inggris Raya, pada 11-22 Juli 2019.

KOMPAS.com - Ternyata tidak hanya top perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia saja yang memberi kesempatan siswa berprestasi internasional masuk kampus mereka lewat jalur prestasi.

Universitas kelas dunia mulai mengamati talenta-talenta siswa Indonesia berprestasi lewat beragam kompetisi dan penelitian siswa internasional. Tidak perlu melamar, siswa justru ditawari masuk universitas tersebut dengan beragam fasilitas beasiswa.

Salah satunya dialami Alfian Edgar Tjandra siswa SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, yang secara khusus mendapat tawaran, tanpa harus melamar, di Harvard University, Amerika Serikat, salah satu jajaran "Ivy League", universitas terketat dan bergengsi Amerika Serikat.

"Biasanya melalui ajang-ajang kompetisi internasional, universitas besar internasional tersebut sudah melakukan pengamatan, siswa-siswa mana yang masuk 'radar' mereka, termasuk siswa kami yang meraih prestasi internasional" jelas Imam Husnan Nugroho Kepala Sekolah Kharisma Bangsa.

Kompetisi dan penelitian

Alfian Edgar Tjandra dan Farrel Dwireswara Salim merupakan dua siswa Kharisma Bangsa yang mewakili Indonesia  dalam ajang IMO (International Mathematical Olympiad), dan berhasil meraih medali perak dan perunggu di Bath, Inggris Raya, pada 11-22 Juli 2019.

Baca juga: Prestasi Gemilang, Indonesia Peringkat 5 Lomba Debat Internasional

Mereka berdua juga aktif tergabung dalam TOMI (Tim Olimpiade Matematika Indonesia). Kontribusi medali ini membawa tim Indonesia meraih peringkat 14 dari 110 negara yang ikut serta dalam olimpiade ini, dengan total raihan 6 medali yaitu 1 medali emas, 4 medali perak, dan 1 medali perunggu.

Selain Edgar dan Farrel, dua siswi lain Anastasya Azzahra dan Tiara Salsabila juga berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas dalam "World Invention Creativity Olympic (WICO)" di Seoul, Korea Selatan, pada 25-27 Juli 2019.

Proyek sains plester daur ulang dan krim untuk mempercepat penyembuhan luka dari Anastasya dan Tiara mendapat penghargaan atas upaya memanfaatkan ekstrak alami daun sirih dan kemangi untuk menghasilkan plester dan krim untuk mengurangi limbah medis plester yang sulit didaur ulang.

Tiga kunci sukses siswa

Lebih jauh Iwan menjelaskan ada 2 kunci keberhasilan dalam mengantar siswa berprestasi di tingkat internasional dan masuk dalam pengamatan universitas bergengsi dalam dan luar negeri.

"Yang pertama dukungan dari pihak sekolah. Sekolah harus punya kultur atau budaya untuk berprestasi. Dengan kultur itu kita bisa membantu anak-anak berprestasi. Yang kedua tentu saja dukungan dari orang tua," jelas Iwan.

Iwan menambahkan, "Dukungan orangtua memungkinkan siswa untuk berprestasi. Anak menjadi bersemangat saat mendapat support dari orangtua mulai saat mempersiapkan diri hingga menghadapi lomba." 

Faktor ketiga dan tidak kalah penting dalam mendorong prestasi siswa menurut Iwan adalah guru. "Guru adalah ujung tombaknya kurikulum dan pendidikan. Prestasi anak-anak sangat ditentukan bagaimana guru memberi pendampingan. Kami sangat concern terhadap soal guru ini," tegas Iwan.

Membangun budaya prestasi

Anastasya Azzahra dan Tiara Salsabila meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada 25-27 Juli 2019.DOK. KHARISMA BANGSA Anastasya Azzahra dan Tiara Salsabila meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada 25-27 Juli 2019.

Aisyah, guru pendamping olimpiade dan penelitian internasional menjelaskan budaya prestasi dapat dibangun melalui pola pendampingan dan regenerasi.

"Sekolah mendukung melalui klub khusus Tim Olimpiade Sains Kharisma  atau Toska. Untuk pembinaan ada pendampingan dari kakak kelas yang dulu ikut OSN aktif mendamping adik kelasnya," jelas Aisyah.

Selain itu, siswa olimpiade juga akan dikirim ke camp khusus sekitar lebih kurang 3 minggu untuk mempersiapkan olimpiade. "Tantangannya adalah membantu siswa ini, karena saat mereka mengikuti pembinaan, mereka harus tetap mengejar ketertinggalan di kelas," ujarnya.

Iwan juga menyampaikan syarat utama membangun keberhasilan membangun budaya prestasi sekolah adalah memperkuat akuntabilitas guru.

"Guru diharapkan memiliki akuntabilitas tinggi sehingga tugas mereka tidak hanya berhenti dengan mengajar di depan kelas saja. Guru didorong memiliki tanggung jawab mengoptimalkan potensi terbaik siswa dengan memotivasi dan juga menginspirasi siswa dalam pembelajaran di kelas," tutup Iwan. 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X