Jelang Kemerdekaan, Kesehatan Jiwa Jadi Tantangan Pembangunan SDM

Kompas.com - 14/08/2019, 11:57 WIB
Peluncuran buku Jiwa Sehat, Negara Kuat di Unika Atma Jaya Jakarta (13/8/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARPeluncuran buku Jiwa Sehat, Negara Kuat di Unika Atma Jaya Jakarta (13/8/2019).

Melalui ini diharapkan dapat dibuatkan formulasi memberdayakan remaja dalam membentuk generasi dengan mental dan emosional  baik, jauh dari korupsi, taat pajak, toleransi dan lainnya.

Prof. Hans Pols menambahkan, "Pendidikan menjadi dasar pembentukan SDM. Pendidikan dapat memaksimalkan seluruh potensi kemampuan manusia untuk membangun bangsa termasuk bagaimana menumbuhkan karakter dengan mental yang sehat seperti yang kita bahas dalam seminar ini."

Menyembuhkan "luka politik" pemilu

Dalam kesempatan sama, Prof. Hans Pols melihat polarisasi selama dan pascapemilihan presiden menjadi tantangan dalam membangun kesehatan jiwa bangsa ke depan. 

"Soal polarisasi yang menjadi sangat kuat dan rendahnya toleransi tidak hanya dialami Indonesia dan menjadi 'mental illnes' yang dihadapi banyak negara seperti Amerika Serikat dan juga Australia," ujar Prof. Hans.

Prof. Hans menyampaikan, "Meningkatkan toleransi, menerima dan merayakan perbedaan harus banyak direalisasikan untuk kehidupan  yang lebih baik. Sangat penting bangsa ini tidak mengalami kejatuhan moral."

Apakah bangsa ini dapat sembuh dari luka politik? "Tergantung. Tergantung pada kedua pihak besar untuk menerima. Trauma politik pemilu sangat menyedihkan. Trauma hoaks juga sangat menyedihkan. Tapi cara kita untuk menyembuhkan diri dari luka adalah menerima dan melewati itu semua."

"Janji Soekarno-Hatta untuk membentuk Indonesia Raya membuat kita yakin bahwa berbagai pihak dapat kembali bergandeng tangan dan bersama melihat Indonesia adalah negara yang hangat, bersimpati dan indah," tegas Prof. Hans.   

Noritu juga menyampaikan hal yang sama, "Tidak banyak masyarakat bersedia menyadari bahwa ini adalah proses politik maka tidak ada yang abadi saat bicara kepentingan."

"Namun saya perhatikan masyarakat Indonesia cukup jenaka dan dewasa. Banyak sekali peristiwa yang sebenarnya berat dihadapi berakhir dengan meme jenaka. Salah satu mekanisme pertahanan diri yang dewaasa adalah Humor," jelasnya.

"Life goes on. Pak Jokowi sebagai Presiden terpilih menyampaikan visi misi, itu sudah merupakan genderang mengajak segenap masyarakat untuk kembali menjalankan kehidupan dengan produktif menatap ke depan bersama-sama memajukan Indonesia," tutup Noriyu.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X