Mungkinkah Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan Diterapkan?

Kompas.com - 15/08/2019, 12:12 WIB
Yuta Funase, Country Manager Quipper Indonesia menjadi pembicara di panggung utama EdTech Asia Summit 2019 yang berlangsung di Singapura, 1 - 2 Agustus 2019 lalu. DOK. QUIPPER INDONESIAYuta Funase, Country Manager Quipper Indonesia menjadi pembicara di panggung utama EdTech Asia Summit 2019 yang berlangsung di Singapura, 1 - 2 Agustus 2019 lalu.

KOMPAS.com - Untuk kedua kali, Quipper menjadi pembicara di panggung utama "EdTech Asia Summit 2019" yang berlangsung di Singapura, 1 - 2 Agustus lalu. Acara tahunan ini mempertemukan para pelaku industri teknologi edukasi di tingkat global, khususnya Asia.

Tahun ini EdTech Asia Summit ini mengangkat tema "The Future of Learning and Work” dan menghadirkan 100 narasumber dari kalangan praktisi edukasi teknologi. Acara ini diharapkan menjadi ajang berbagi inspirasi dan pengalaman guna menghasilkan inovasi lebih baik bagi kepentingan pendidikan dan industri Edutek.

Yuta Funase, Country Manager Quipper Indonesia membagikan pengalaman dalam diskusi panel bersama Daisuke Asano (Direktur Layanan Pendidikan, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, Pemerintah Jepang), Ken Watari (Direktur Strategi & Perencanaan ,Universitas Fulbright) dan Kotaro Ueda (Direktur Strategi, R&D, dan Pengembangan Bisnis, Benesse Corporation).

Konten bermuatan lokal

Dalam panel diskusi tersebut pembicara membahas perkembangan terkini dan tantangan yang dihadapi industri edukasi teknologi yang semakin bergerak cepat.

Baca juga: AI, Jembatan Transformasi Buruh Menjadi Master Teknologi

 

Yuta Funase mengatakan, “Quipper memastikan konten kami 100 persen lokal, karena disesuaikan dengan kurikulum nasional. Selain itu, kami melihat interaksi siswa dan tenaga pendidik sangat penting."

Lebih jauh Yuta menjelaskan, pihaknya menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan coach dan tutor online dalam layanan, Quipper Video Masterclass.”

Diskusi tersebut juga membahas mengenai ekspansi regional yang dilakukan oleh berbagai perusahaan di wilayah ASEAN, khususnya Indonesia.

Integrasi kecerdasan buatan

Selain itu, narasumber juga membahas mengenai tren global yang mengarah pada penggunaan Artificial Intelligence ( AI) dalam online learning.

Menurut Yuta saat ini Quipper sedang mengarah ke sana, tapi belum memaksimalkan fungsi AI. Hal tersebut dikarenakan layanan tutor dan coach online masih membutuhkan personalisasi dan interaksi manusia.

"Kebutuhan siswa bukan hanya memahami pelajaran semata, tapi juga motivasi. Namun bukan tidak mungkin di masa yang akan datang layanan ini akan dapat berevolusi dengan memanfaatkan teknologi AI," tegas Yuta.

Lebih lanjut, Yuta memastikan sejak 2015 hingga saat ini layanan Quipper telah digunakan oleh 6 juta siswa dan 400 ribu guru di seluruh Indonesia karena konsistensi kualitas konten, serta menempatkan kebutuhan pengguna sebagai prioritas utama di tengah kompetisi industri edukasi teknologi yang semakin dinamis.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X