Rektor Asing Bisa Saja ke Indonesia, tetapi Ada Syaratnya...

Kompas.com - 15/08/2019, 20:11 WIB
Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi Rosari Saleh.KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEA Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi Rosari Saleh.

KOMPAS.com - Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi Rosari Saleh mengatakan rencana pemerintah mendatangkan rektor asing memimpin perguruan tinggi di Indonesia mungkin saja dilakukan jika memenuhi syarat tertentu.

Syarat utama yaitu harmonisasi berbagai jenis peraturan, mulai dari pemerintah tingkat pusat hingga daerah, serta koordinasi antara instansi pemerintahan.

Menurut dia, harmonisasi dan koordinasi itu membutuhkan waktu lama sehingga saat ini rencana soal rektor asing belum bisa dilakukan apabila kedua hal itu belum selesai dikerjakan.

“Rencana itu memungkinkan di suatu hari nanti, tapi harus dibereskan dulu semuanya. Berapa lama bereskan itu? Ini kan harmonisasi peraturan,” kata Rosari Saleh dalam diskusi di kampus UI Depok, Rabu (14/8/2019).

Baca juga: Moeldoko: Rektor Asing untuk Bangun Iklim Kompetitif

Dia mengungkapkan, ada berbagai macam peraturan pemerintahan di Indonesia yang tidak semuanya sinkron, bahkan ada yang bertentangan. Meskipun dikatakan suatu kampus memiliki hak otonomi, tetapi tidak bisa begitu saja mempekerjakan rektor asing.

Bagaimanapun juga, banyak regulasi mengatur kedatangan orang asing ke Indonesia, termasuk untuk jabatan rektor. Memimpin suatu kampus pun harus sesuai peraturan setempat.

“Di negara kita regulasinya harus dibereskan dulu, walaupun dibilang ada otonomi. Ada undang-undang atau peraturan pemerntah yang tidak bisa dilanggar. Kalau rektor asing itu ingin melakukan A, B, dan C, tapi terbentur peraturan bagaimana? Ini yang menurut saya jadi kendala,” imbuh Rosari.

Tidak efektif

Senada dengan pernyataan itu, Pelaksana Tugas Rektor Universitas Budi Luhur, Wendi Usino, menuturkan bahwa keberadaan rektor asing untuk memimpin suatu kampus di Indonesia tidak efektif karena berhubungan dengan dua alasan, yaitu masalah budaya dan pembiayaan.

Bagi dia, perbedaan budaya dari negara asal rektor asing tersebut dengan budaya Indonesia akan membuat kesulitan tersendiri dalam menata manajemen kampus. Dibutuhkan penyesuaian budaya yang tidak mudah dan waktu yang tidak sebentar.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X