Diaspora Talk 2019: Kekuatan "Ngobrol" Berbagi Inspirasi

Kompas.com - 20/08/2019, 20:48 WIB
Ditjen SDID Kemenristekdikti menghadirkan sejumlah ilmuwan muda diaspora dalam acara Diaspora Talks yang digelar Selasa, 20 Agustus 2019, di Aula Gedung D Ristekdikti, Jakarta. DOK. DITJEN SDID KEMENRISTEKDIKTIDitjen SDID Kemenristekdikti menghadirkan sejumlah ilmuwan muda diaspora dalam acara Diaspora Talks yang digelar Selasa, 20 Agustus 2019, di Aula Gedung D Ristekdikti, Jakarta.

Berbagi inovasi riset

Markus Santoso asisten profesor University of Florida sejak Juli 2018 berfokus pada penelitian tentang Virtual Reality dan Serious-game Development, sebuah bidang yang sangat relevan dengan perkembangan teknologi hari ini.

"Ke depan AR/VR akan menjadi teknologi yang sangat dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan kita sehingga ke depan sangat relevan untuk melakukan riset terkait hal ini, tentunya sesuai dengan yang dibutuhkan Indonesia," ujarnya.

Dia mengerjakan implementasi AR/VR untuk ilustrasi anatomi manusia, pendidikan kedokteran, dan fisiologi komputasi. "Tidak hanya untuk pendidikan, VR dapat digunakan untuk mempromosikan dan memperkenalkan pariwisata Indonesia kepada dunia," tambah Markus Santoso.

Melalui program SCKD 2019 ini, ia berharap dapat berkolaborasi dengan peneliti dari Indonesia untuk melakukan penelitian bersama dalam mengembangkan AR/VR yang akan sangat berkembang di era industri 4.0.

Hal senada disampaikan Keni Vidilaseris peneliti postdoc di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia. Minat utama penelitiannya adalah penentuan struktur protein dengan menggunakan metode Sinar-X.

Dalam sharingnya, ia mencoba untuk dapat mendesain/mencari senyawa yang secara spesifik bisa menghambat aktivitas protein tersebut. Dengan demikian, seseorang dapat sembuh dari penyakit-penyakit itu tanpa berefek pada tubuh.

Bangun 'mindset' peneliti

Dalam kesempatan sama, Hutomo Suryo Wasisto, Head of OptoSense Group di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), Braunschweig, Jerman, mengingatkan agar orang muda Indonesia untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu modal dasar peneliti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jangan mudah terjebak pada pseudo-science atau fake sains yang terlihat rasional namun padahal bias. Inilah yang justru banyak terjadi di mana hoaks justru diterima karena kurang mengasah kemampuan berpikir kritis," ujar Wasisto yang akrab di panggil Ito.

Ito menjelaskan di Jerman saat anak masuk SD tidak dituntut harus mampu calistung (baca, tulis dan hitung). Sebaliknya, pembelajaran anak-anak justru difokuskan bagaimana mengajak mereka untuk berpikir kritis dan kreatif. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.