Kompas.com - 30/08/2019, 14:34 WIB

Melihat 'dunia luar'

Hutomo Suryo Wasisto saat mendapatkan Young Materials Scientist Award.Dokumen pribadi Hutomo Suryo Wasisto Hutomo Suryo Wasisto saat mendapatkan Young Materials Scientist Award.

Kemudian, dia mendaftar ke RWTH Aachen University, Jerman. Ini merupakan universitas untuk pengembangan teknologi melalui riset dan aplikasinya dalam dunia industri. Perguruan tinggi tersebut juga adalah almamater BJ Habibie.

Sebenarnya Ito dinyatakan lulus dan bisa diterima di kampus itu, tetapi dia harus menyerahkan ijazah S1 sebagai syarat administratif. Padahal, ijazah dari UGM itu belum bisa langsung keluar, dan dia harus menunggu selama satu semester.

Pupuslah harapan untuk bisa kuliah di sana. Hingga pada suatu hari, ketika dia sedang berolahraga, ada telepon dari seorang profesor dari Taiwan yang menawarkan program kuliah master melalui pembiayaan dari perusahaan semikonduktor di sana.

Dia putuskan untuk menerima tawaran itu. Akhirnya dia menempuh studi di Asia University, Taiwan, dan berhasil lulus dengan gelar Master of Engineering in Computer Science and Information Engineering.

Lagi-lagi, Ito tampil sebagai lulusan terbaik. Dia meraih GPA 92 dan menyandang predikat Outstanding scholar of semiconductor engineering industry R and D master degree.

“Saya jadi lulusan terbaik, dapat master degree award. Itu kelas spesial yang menggabungkan industri dengan universitas. Masalah yang dihadapi di industri dilempar ke universitas,” ungkapnya.

Profesor yang dulunya menawarkan kuliah di Taiwan itu mengharapkan dia tetap tinggal dan bekerja di sana, istilahnya membangun negara tersebut melalui keahlian yang dimiliki di bidang teknik.

Bersikeras ke Jerman

Namun, dia bersikeras untuk mewujudkan impiannya ke Jerman meskipun hal itu membuat banyak orang di sana menjadi kecewa. Singkat cerita, dia diterima sebagai scientific student sekaligus research assistant di negeri yang beribu kota di Berlin itu.

Persisnya, Ito bisa menempuh studi dan bekerja di Technische Universitat Braunschweig. Kota itu dikenal sebagai sister city Bandung. Tidak heran jika terdapat banyak orang Sunda di sana.

Awal kehidupannya di sana tidak mudah. Salah satu masalahnya yaitu mengenai bahasa. Dia bisa berbahasa Inggris, tetapi ternyata itu masih membuatnya diremehkan karena masyarakat setempat kurang menghargai orang asing yang belum fasih berbahasa Jerman.

Bahkan, dia pernah dibilang bahwa kalau masih berbicara dengan bahasa Inggris lebih baik pindah ke Inggris atau Amerika Serikat saja. Perkataan itu memecutnya untuk terus belajar keras bahasa Jerman.

Segala macam materi dia pelajari setiap hari. Ada yang dengan cara membaca buku dan berita di koran dan majalah, menonton televisi, mendengarkan musik dan radio, serta banyak macam cara lainnya.

Tidak terasa, dia mengalami banyak perkembangan dan bisa dibilang fasih berbahasa Jerman hanya dalam waktu satu tahun. Kemajuan itu membuatnya tidak lagi diremehkan dan makin diperhatikan lingkungan di sekitarnya.

“Awalnya saya diremehkan karena belum fasih bahasa Jerman. Waktu saya mengajar juga mahasiswa enggak mau dengerin. Setelah belajar keras dari berbagai media, itu membantu dengan cepat dalam setahun,” jelasnya.

Selain bahasa, kendala lain yang dialaminya yaitu gegar budaya (cultural shock). Contohnya saat bertemu dan membuat janji dengan seseorang, juga mengenai penghargaan terhadap waktu.

Sempat diremehkan

Hutomo Suryo Wasisto ketika memberikan materi kuliah di Jerman.Dokumen pribadi Hutomo Suryo Wasisto Hutomo Suryo Wasisto ketika memberikan materi kuliah di Jerman.

Begitu pula saat mengajar, dia harus benar-benar siap dengan materi pengajaran jika tidak ingin “dibantai” oleh para mahasiswanya. Sebab, mereka sangat kritis dan tidak akan mendengarkannya bila merasa tidak memperoleh sesuatu yang baru dan berharga saat kuliah.

Waktu terus berjalan, Ito pun bisa menghasilkan begitu banyak journal paper yang mengantarnya mendapat sejumlah penghargaan, antara lain Best Young Scientist Poster Award pada 2012 di Krakow, Polandia, dari Eurosensors. Itu merupakan komunitas sensor terbesar di Eropa.

Ada pula Best Paper Award dari IEEE Nanotechnology Council pada 2013 di Suzhou, China. Tercatat sebanyak 45 journal paper berhasil diterbitkan sejak 2011 sampai 2019. Berbagai pencapaian itu membuat orang-orang Jerman di kampus merasa bingung bagaimana cara dia bisa melakukannya.

“Tadinya saya diremehin, dibilang itu susah, enggak berhasil. Tapi, semakin diremehin dan ditantang, saya akan semakin membuktikan bahwa saya bisa,” tegas Ito.

Hingga akhirnya dia berhasil mewujudkan cita-cita masa kecil. Setelah menjalani studi S3 bidang nanoteknologi di Technische Universitat Braunschweig sejak 2010, dia pun dinyatakan lulus pada 24 Juni 2014.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Indomaret Buka 6 Lowongan Kerja Lulusan D4/S1 Semua Jurusan

Indomaret Buka 6 Lowongan Kerja Lulusan D4/S1 Semua Jurusan

Edu
Wisuda 2022, Universitas Prasetiya Mulya Usung Tema “Embarking on Fundamental Resetting” dan Ajak Lulusan Cinta Lingkungan

Wisuda 2022, Universitas Prasetiya Mulya Usung Tema “Embarking on Fundamental Resetting” dan Ajak Lulusan Cinta Lingkungan

BrandzView
Kemendikbud: Mahasiswa D3/D4 Bisa Daftar Pertukaran Mahasiswa

Kemendikbud: Mahasiswa D3/D4 Bisa Daftar Pertukaran Mahasiswa

Edu
Prof. Rudy Harjanto: Hiperrealitas Jadi Tantangan di Era Digitalisasi

Prof. Rudy Harjanto: Hiperrealitas Jadi Tantangan di Era Digitalisasi

Edu
Dosen UM Surabaya Beri 7 Tips Kencan Online di Tinder

Dosen UM Surabaya Beri 7 Tips Kencan Online di Tinder

Edu
Hari Sukarelawan Internasional, Trakindo Kembali Gelar “Volunteers Mengajar”

Hari Sukarelawan Internasional, Trakindo Kembali Gelar “Volunteers Mengajar”

Edu
Tak Bisa Wisuda di Indonesia, Mahasiswa Ini Lanjut S2 di Australia

Tak Bisa Wisuda di Indonesia, Mahasiswa Ini Lanjut S2 di Australia

Edu
Kemendikbud Buka Pertukaran Mahasiswa Merdeka 3, Cek Syaratnya

Kemendikbud Buka Pertukaran Mahasiswa Merdeka 3, Cek Syaratnya

Edu
Menginspirasi, Dua Srikandi Lulusan Prasmul Berhasil Temukan Karier Impian di Bidang STEM

Menginspirasi, Dua Srikandi Lulusan Prasmul Berhasil Temukan Karier Impian di Bidang STEM

Edu
ITC: Rata-rata Nilai Skor Sertifikasi TOEIC Siswa SMK Naik Signifikan

ITC: Rata-rata Nilai Skor Sertifikasi TOEIC Siswa SMK Naik Signifikan

Edu
Wacana KA Argo Parahyangan Ditutup, Pakar Unpad: Sengsarakan Konsumen

Wacana KA Argo Parahyangan Ditutup, Pakar Unpad: Sengsarakan Konsumen

Edu
Hidupkan Budaya Inovasi, SKSG UI Gelar Kompetisi Nasional “TMTIC 2022”

Hidupkan Budaya Inovasi, SKSG UI Gelar Kompetisi Nasional “TMTIC 2022”

Edu
Eurasia International Course FIS UNJ Bahas Kebijakan Kebencanaan di Indonesia

Eurasia International Course FIS UNJ Bahas Kebijakan Kebencanaan di Indonesia

Edu
Ners UM Surabaya Beri 3 Tips Atasi Perut Kembung dan Kentut Berlebihan

Ners UM Surabaya Beri 3 Tips Atasi Perut Kembung dan Kentut Berlebihan

Edu
Kemendikbud: 143.000 Satuan Pendidikan Terapkan Kurikulum Merdeka

Kemendikbud: 143.000 Satuan Pendidikan Terapkan Kurikulum Merdeka

Edu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.