Hutomo Suryo Wasisto, Jadi Ilmuwan Kelas Dunia dan Membangun Indonesia dari Dunia

Kompas.com - 30/08/2019, 14:34 WIB
Hutomo Suryo Wasisto sedang melakukan penelitian bersama ilmuwan Jerman. Dokumen pribadi Hutomo Suryo Wasisto Hutomo Suryo Wasisto sedang melakukan penelitian bersama ilmuwan Jerman.

Warga istimewa

Tidak main-main, gelar yang berhak disandangnya yaitu Doktor-Ingenieur (Dr Ing) in Electrical Engineering, Information, and Physics dengan status Summa Cum Laude with distinction/honor.

Bukan sembarangan bisa mendapat status itu. Parameter penilaiannya antara lain dilihat dari lamanya kuliah, kualitas dan pengaruh hasil riset, penghargaan yang diperoleh, dan jumlah journal paper.

“Waktu wisuda saya diumumkan jadi Phd terbaik. Umur saya waktu itu 26 tahun, akhirnya saya dapat gelar Dr Ing seperti Habibie. Itu doktor teknik yang cuma ada di Jerman,” kata Ito.

Tidak berhenti di situ, dia pun sempat melanjutkan program postdoctoral di Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat, untuk bidang elektro. Itu merupakan salah satu syarat untuk bisa menjadi profesor kelak.

Namun, dia memutuskan kembali ke Jerman karena ingin memberi kontribusi sesuai ilmu dan keahlian yang dimilikinya. Tidak hanya itu, dia ingin mendapatkan status menjadi warga negara tetap karena prestasinya selama ini.

Ternyata semua itu bisa diperolehnya melalui dukungan para profesor dan kampus tempat dia bekerja. Akhirnya dia menyandang status German permanent residency for high-qualified person.

Membangun dari dunia

Saat ini, Dr Ing Hutomo Suryo Wasisto menduduki posisi sebagai Research Group Leader. Dia bertanggung jawab di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) dan Institute of Semiconductor Technology (IHT), di Technische Universitat Braunschweig, Jerman.

Bisa dikatakan bahwa kedudukan itu setara dengan asisten profesor di Amerika Serikat. Artinya, selain sebagai dosen, Ito mempunyai kelompok mahasiswa sendiri dan otoritas untuk menentukan arah pengembangan riset apa yang akan dilakukan.

Tidak terasa, sudah sekitar sembilan tahun dia tinggal di Jerman. Status ilmuwan diaspora yang disandangnya sekarang membuat dia tidak bisa melupakan Indonesia sebagai tanah airnya dan ingin berkontribusi nyata.

Ito berinisiatif melakukan kerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam program “OptoSense” Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG Nano).

Ini merupakan proyek kolaborasi beasiswa untuk sembilan mahasiswa doktoral dari Indonesia selama empat tahun di Jerman untuk melakukan penelitian di bidang nanoteknologi.

“Indonesia memang homecountry saya, tapi membangun Indonesia tidak harus di Indonesia, bisa dari seluruh pelosok dunia. Itu yang saya lakukan sekarang. Saya berinisiasi kerja sama IG Nano soal nanoteknologi tahun 2016,” imbuhnya.

Dia pun merasa dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah lebih terbuka dan mulai membangun kerja sama dengan sejumlah ilmuwan diaspora di berbagai negara. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya beasiswa yang diberikan, serta program penelitian dan kerja sama yang dilakukan.

Jadi ilmuwan mengasyikan

Begitu pula dengan acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang digelar sejak 2017 sampai 2019. Dalam perhelatan tahunan itu, para ilmuwan diaspora diundang untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka kepada masyarakat Indonesia.

“Sekarang sudah mulai bagus, pemerintah mulai jemput bola, mereka datangi diaspora. SCKD ini bukan hanya seremonial, setelah ini kami benar-benar bergerak. Kami ingin menyetarakan pendidikan, kualitas riset, publikasi internasional, dan sebagainya. Kami berusaha sebarkan virus-virus yang bagus,” ujar Ito.

Untuk generasi muda Indonesia, dia berpesan agar peduli dengan ilmu pengetahuan, bukan hanya mengamati konten “receh” yang tidak ada gunanya di media sosial. Mereka harus membangkitkan jiwa kritis dan rasa keingintahuannya ketika melihat sesuatu.

Menurut Ito, menekuni profesi sebagai ilmuwan itu mengasyikkan dan masih bisa menjalani hidup layaknya manusia pada umumnya. Dia mengaku masih tetap menjalani hobinya bermain bola basket dan menonton pertandingan olahraga di stadion.

Dia juga masih pergi ke kafe untuk bersosialisasi bersama teman-teman dan mahasiswanya. Dari penampilan pun, dia masih bergaya rambut spike, memakai topi hiphop dan celana gombrong saat santai, sama seperti anak muda lainnya.

“Jadi ilmuwan itu asyik, enggak harus terus di laboratorium dan enggak tahu perkembangan dunia luar. Saya tetap bisa menikmati hidup dan melakukan hobi. Penampilan juga tetap gaya anak muda, karena yang dibutuhkan dari saya adalah pemikiran, bukan penampilan. Generasi muda sekarang harus kritis, punya rasa ingin tahu. Lihat sesuatu jangan langsung percaya, tapi jangan langsung menghakimi juga. Scientific thinking itu harus ditanamkan sedari kecil,” pesan Ito dengan panjang lebar ketika mengakhiri pembicaraan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X