"Indonesia Writers Festival UMN 2019", Upaya Memperkuat Adab Menulis

Kompas.com - 08/09/2019, 21:50 WIB
UMN menggelar Indonesia Writers Festival (IWF) 2019 di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Jumat (6/9/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARUMN menggelar Indonesia Writers Festival (IWF) 2019 di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Jumat (6/9/2019).

KOMPAS.com - Generasi milenial didorong untuk mampu membangun budaya menulis dengan budi bahasa baik dan sopan di ranah digital. Hal ini menjadi tantangan besar mengingat media sosial banyak digunakan untuk hoaks dan kebencian.

Isu ini mengemuka dalam "Indonesia Writers Festival (IWF) 2019" yang digelar di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara ( UMN) pada Jumat (6/9/2019).

Bupati Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar memberikan mengapresiasi UMN atas kegiatan yang dilaksanakan ini. "Kegiatan ini menjadi sarana bagi generasi milenial untuk belajar menulis dengan adab karena di media sosial kini mudah dijumpai bahasa yang kurang sopan, membenci satu sama lain dan menyebarkan hoaks," ujarnya.

Baca juga: Hari Aksara Internasional, Gramedia Raih Penghargaan Mitra Dikmas Kemendikbud

Acara yang digagas UMN dan IDN ini turut menghadirkan Najwa Shihab dan Ayu Utami dalam dalam talkshow bertajuk ‘Milenial Harus Melek jurnalistik’.

Budaya menulis

Wakil Rektor II UMN Andrey Andoko dalam sambutannya menyampaikan budaya menulis merupakan hal yang sudah menjadi bagian dalam pembelajaran di UMN.

“Untuk semua mahasiswa UMN mungkin sudah tidak aneh lagi dalam mengasah dan meningkatkan kemampuan menulisnya menjadi lebih baik lagi. Kami di sini menganggap bahwa kemampuan menulis adalah sebuah hal yang sangat baik," ujar Audrey.

Ia berharap, "Jika lulus nanti kemampuan itu diharapkan dapat berkontribusi untuk masa depannya. Saya yakin, festival ini akan meningkatkan kemampuan literasi para generasi muda."

Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara dalam sambutan menyampaikan apresiasinya pada kegiatan maupun peran penulis di era digital.

“Sejujurnya saya itu tidak handal menulis. Oleh karena itu, saya punya suatu apresiasi sendiri kepada penulis, karena saya anggap mempunyai kemampuan luar biasa dan unik. Karena menulis itu tidaklah mudah, memerlukan kinjerja dua sisi otak kanan dan kiri yang bisa bekerja sama atau sinkron, karena kreativitas atau imajinasi dan realisasi serta praktik terkadang tidak jarang susah utnuk bekerja selaras,” ujar Rudi.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X