Kontes "Drone" Indonesia Diharap Hasilkan Produk Bernilai Ekonomis

Kompas.com - 02/10/2019, 20:32 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir dalam pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2019 di Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur, Selasa (1/10/2019). Dok. KemenristekdiktiMenristekdikti Mohamad Nasir dalam pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2019 di Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur, Selasa (1/10/2019).


KOMPAS.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Menristekdikti) Mohamad Nasir membuka Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2019 di Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Selasa (1/10/2019).

Dia mengharapkan kontes ini mampu mendorong mahasiswa menjadi penemu bidang kedirgantaraan yang dapat menciptakan paten bernilai komersil.

Tidak hanya berhubungan dengan aspek ekonomi, para mahasiswa juga diharapkan mampu menciptakan robot terbang, wahana terbang tanpa awak, atau drone yang bisa membantu pertahanan negara dan penanggulangan bencana.

"Saya berharap ini menghasilkan inventor baru, penemu baru dalam masalah robot terbang, karena teknologi di dalam hal ini menjadi sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi masa depan,” ucap Nasir melalui keterangan tertulis, Rabu (2/10/2019).

Inovasi untuk daya saing bangsa

Terkait hubungan robot terbang dengan perekonomi, Menristekdikti memberi contoh daerah perkebunan. Saat ini cara mengawasi kebun itu bukan lagi melalui darat, melainkan lewat udara.

Baca juga: Kemenristekdikti Gelar Pameran Teknologi dan Inovasi Anak Negeri

Dia pun berharap dari 42 perguruan tinggi yang mengikuti KRTI 2019, ada teknologi drone yang mampu digunakan untuk pertahanan negara dan penanggulangan bencana.

Menyangkut masalah keamanan, diharapkan robot terbang ini mampu mengamankan Indonesia dari segala serangan karena menjadi sangat penting, makanya harus didukung.

“Selanjutnya, bagaimana penanggulangan bencana. Apakah bencana karena banjir, haze atau asap, atau karena gempa bumi. Ini semua kita harus latih dengan baik. Dengan pesawat tanpa awak, kita bisa deteksi lokasi bencana," ujar Nasir.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Nurhasan sebagai tuan rumah KRTI 2019 berharap kontes tersebut bisa mendorong perguruan tinggi mengembangkan program studi yang mampu menghasilkan inovasi baru yang mendukung daya saing bangsa.

Lomba 4 divisi

"Kontes Robot Terbang Indonesia ini merupakan ajang kompetisi kemampuan masing-masing perguruan tinggi untuk menunjukkan kepiawaian mahasiswa dalam merancang dan membuat serta memprogram robot-robot ciptaannya dalam kompetisi. KRTI 2019 ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya pendidikan tinggi yang bermutu, serta berkemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa," tutur Nurhasan.

Untuk diketahui, KRTI 2019 merupakan agenda tahunan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) Kemenristekdikti. KRTI yang ketujuh ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mulai tanggal 1 sampai 5 Oktober di Lapangan Udara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Grati, Pasuruan, Jawa Timur.

Ada empat divisi lomba yang diselenggarakan, yaitu Divisi Racing Plane (RP) yang diikuti oleh 24 perguruan tinggi, Divisi Fixed-Wing (FW) yang diikuti oleh 25 perguruan tinggi, Divisi Vertical Take-off and Landing (VTOL) yang diikuti oleh 24 perguruan tinggi, dan Divisi Technology Development (TD) yang diikuti oleh 22 perguruan tinggi.

Selain pejabat yang mewakili daerah dan TNI, hadir pula Direktur Kemahasiswaan Kemendikbud Didin Wahidin, serta 285 mahasiswa peserta KRTI 2019 dan dosen pendamping dari 42 perguruan tinggi di Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X