ICIEP: Membangun Jembatan Dunia Fisik dan Digital dalam Pembelajaran

Kompas.com - 08/10/2019, 20:22 WIB
Universitas Terbuka menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Conference in Innovation on Education and Pedagogy (ICIEP) yang digelar di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten (5/10/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARUniversitas Terbuka menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Conference in Innovation on Education and Pedagogy (ICIEP) yang digelar di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten (5/10/2019).

KOMPAS.com - Universitas Terbuka menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Conference in Innovation on Education and Pedagogy (ICIEP) yang digelar di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten (5/10/2019).

Konferensi internasional merupakan salah satu rangkaian acara Forum Komunikasi (Forkom) FKIP Negeri se-lndonesia yang diselenggarakan 4-5 Oktober 2019.

Acara menghadirkan beberapa pembicara utama yakni Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka), Prof. Ruth Reynold (Ahli pendidikan dan pimpinan Global Education Research and Teaching Team, Australia), Prof. Suminto Sayuti (Ahli budaya dan bahasa, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia), Prof. Patricia Moyer-Packenham (Direktur Pendidikan Matematika Utah State University, Amerika), dan Prof. Ahmad Rozelan Yunus (Fakultas Teknologi Manajemen dan Teknopreneurship Universiti Teknikal Malaysia Melaka, Malaysia).

Selain itu, ICIEP juga mempresentasikan 111 makalah terkait berbagai aspek pendidikan yang sudah terseleksi.

Memperluas akses lewat teknologi

Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) menyampaikan, "Terkait pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era industri 4.0, hal ini menjadi wadah bagi praktisi dan akademisi dapat merespon perkembangan teknologi yang berdampak terhadap kualitas pembelajaran."

Baca juga: Mungkinkah Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan Diterapkan?

Prof. Ojat mengajak para akademisi memiliki sensitifitas terhadap perubahan dalam masyarakat, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran yang dapat diakses dari mana saja, dan kapan saja.

"Yang terpenting dari teknologi tidak hanya menghilangkan batasan-batasan itu, namun juga dapat menghadirkan pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat, sepertinya UT. Melalui teknologi saat ini UT mampu melayani 350 ribu lebih mahasiswa dari berbagai kalangan," jelas Prof. Ojat.

Rektor UT juga menyampaikan saat ini telah tumbuh kebutuhan masyarakat agar strategi pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah dikembangkan UT dapat juga diterapkan oleh perguruan tinggi konvensional lain.

"Hal ini juga menjadi perhatian Kemenristekdikti untuk mendorong perguruan tinggi konvesional untuk mengikuti jejak UT mengembangkan pendidikan jarak-jauh atau online. Kegiatan pembelajaran kini tidak hanya terbatas face to face di dalam kelas namun juga sudah dapat dilakukan online yang dapat meningkatkan intensitas pembelajaran kapanpun," jelas Prof. Ojat

Ia berharap dengan meningkatnya intensitas pembelajaran ini akan meningkatkan pula kualitas pembelajaran di pendidikan tinggi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X