"Papua Kakakku", Gagasan Nusantara dari Teman Tuli Teater 7

Kompas.com - 09/10/2019, 00:01 WIB
Ray Sahetapy pendiri Teater 7 usai pertunjukkan teatrikal ?Papua Kakakku? (14/9/2019) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta. DOK. KOMPAS,.com/EVELYN KUSUMARay Sahetapy pendiri Teater 7 usai pertunjukkan teatrikal ?Papua Kakakku? (14/9/2019) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta.

“Semua panitia punya kegiatan masing-masing,” jelasnya Helga. “Saling sabar dan memahami keadaan teman-teman panitia yang terkadang koordinasinya lambat karena punya kesibukan
masing-masing.”

Namun di antara banyaknya bentrok, Helga merasakan adanya kerja sama yang tulus. Dirinya salut kepada seluruh pihak yang terlibat; mulai dari pemain, Ibu-ibu dari pemain, panitia, Juru Bahasa Isyarat, sampai ke Sutradara, dan masih banyak lagi.

“Hati dan tenaganya luar biasa sampai sulitnya membagi waktu bukan penghalang pementasan ini,” terusnya.

Tuli dan penerimaan Keluarga

Sebelum masuk ke dalam ruangan teater, para hadirin disuguhkan pameran karya kecil berisikan lukisan dan gambar dari para pemain; bukan hanya itu, terdapat juga pesan pendek dari orangtua mereka.

Kriya dan kata yang terpajang bukan tanpa sebab, Teater 7 ingin memberikan sekilas cerita yang dialami oleh para pemain dan juga keluarganya selama masa persiapan.

Teater 7 mengangkat budaya Papua sebagai latar cerita pementasan kali ini, dilengkapi dengan pakaian dan aksesorisnya.

Cerita tentang perjuangan, asa, harapan, motivasi, kegagalan, bahkan keterpurukan diilustrasikan ke dalam karya. Terlihat di awal, banyak keraguan yang masih muncul pada sebagian orangtua dan juga pemain.

“Ada sebagian orang tua yang dulunya merasa malu punya anak tuli,” tutur Nisa kembali. “Tapi kami para orangtua pun belajar dan bisa melihat dunia anak-anak kami itu tidak seburuk yang
kami bayangkan dulu,” tambahnya.

Menanggapi pergumulan ini, Helga dan Kania juga memiliki pandangan sama. Kedua produser perempuan ini menyatakan dukungan dari keluarga itu penting adanya.

Helga merasa masih banyak orang tua malu punya anak tuli, tidak bangga, menyembunyikan, tidak mendukung hal-hal yang anaknya sukai, bahkan merasa anaknya tidak bisa melakukan apa-apa karena tuli.

“Kami ingin membangkitkan kembali harapan dan semangat teman-teman Tuli, adik-adik Tuli,
orangtua yang punya anak tuli,” tukas Helga. “Tuli itu bisa. Bisa berkarya," tegasnya.

Pernyataan serupa datang dari Kania, “Mereka sama seperti anak-anak yang lain, namun cara
berkaryanya yang berbeda.”

Penulis: Edwin

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X