The Dangerous Mind", Metodologi Mengajar dan Membangun Nalar Pendidikan Kita

Kompas.com - 14/10/2019, 17:57 WIB
Ilustrasi. TOTO SIHONOIlustrasi.

 

KOMPAS.com - Wanita ini bernama LouAnne Johnson. Sederhana, tampak sangat cerdas dan bijaksana. Di tahun 1989 ia memilih meninggalkan kesatuannya di marinir Amerika lalu mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik, di Carlmont High School, Belmont, California, yang isinya murid-murid paling brengsek, sangat tidak termotivasi, tak mau dididik.

Menimbang-nimbang pengalamannya menegakkan disiplin di marinir, LouAnn mencoba pendekatan berbeda untuk mendapatkan perhatian serta respek dari ‘berandalan-berandalan’ di kelasnya. Bagi LouAnn, tanpa kedua hal itu ya percuma saja mengajari mereka pelajaran-pelajaran sesuai kurikulum.

Berbekal dua lagu Bob Dylan, "Mr Tambourine’s Man" dan "Do Not Go Gentle Into That Goodnight" yang sarat akan metafor dan sangat puitis, LouAnn mulai mendapatkan perhatian, respek bahkan cinta dari para muridnya.

Meski ditentang oleh kepala sekolah dan kolega-koleganya, LouAnn tetap bersikukuh menjalankan metoda pengajarannya. Tujuannya sama: murid-murid belajar banyak hal termasuk apa yang diwajibkan dalam kurikulum.

Kisah LouAnn menginspirasi banyak orang, terutama yang peduli pada pendidikan formal.

Di tahun 1995 Hollywood memvisualisasikannya dengan sempurna dalam film "The Dangerous Mind" dibintangi Michelle Pfeiffer.

Pendidikan formal tak hanya menjadi kepedulian kaum kebanyakan yang mampu membayar berapapun harga sebuah pendidikan, tapi juga kaum marginal, yang tak hanya melihatnya sebagai kemewahan, tetapi sekaligus kutukan.

The ways we teach

Saya jadi teringat hal-hal yang sangat familier dengan apa yang terjadi di kelas LuoAnne di California. Ruang-ruang kelas kita nyaris tak bisa dibedakan dengan sebuah pabrik roti – apapun bentuk dan aromanya – itu tetap roti. Tak ada pilihan lain bagi ‘para adonan’ untuk menjadi sesuatu yang lain selain roti.

Apakah kesalahan kurikulum? Tidak juga. Buku-buku wajib (textbook) yang dipakai? Belum tentu.

Bagaimana dengan metodologi? Nah, mungkin ini salah satu biangnya. Biang lainnya adalah common sense untuk alasan dan tujuan apa seseorang masuk ke ruang kelas, lalu di ujung hari apa yang sebenarnya ia dapatkan dari kelas itu.

Beberapa waktu lalu saya diundang untuk memberikan paparan tentang Link & Match dalam pendidikan tinggi oleh Forum Dosen Manajemen Indonesia (FMI) di UNJ. Bersama saya ada dua panelis lain yang juga seperti saya sama-sama datang dari latar belakang korporat.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X