Pengamat: Pemerintah Harus Fokus Orientasi Mutu SD/MI

Kompas.com - 22/11/2019, 22:42 WIB
Praktik baik literasi membaca massal di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan, Kalimantan Timur. DOK. TANOTO FOUNDATIONPraktik baik literasi membaca massal di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan, Kalimantan Timur.


KOMPAS.com - Pengamat pendidikan, Ahmad Rizali menilai pemerintah Indonesia seharusnya berfokus ke jenjang pendidikan SD/MI berorientasi kepada mutu.

Hal itu menanggapi rekomendasi Bank Dunia kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait revisi Standar Nasional Pendidikan untuk fokus pada aspek terukur.

"Sangat setuju rekomendasi ini karena pemerintah tidak punya fokus atau haluan utama pendidikan," kata Ahmad dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com.

Bank Dunia sebelumnya menyebutkan pemerintah Indonesia dapat memastikan bahwa siswa setidaknya mencapai standar minimal pembelajaran dan pengembangan diri siswa di setiap jenjang sistem pendidikan.

Baca juga: 5 Rekomendasi Bank Dunia untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan Indonesia

Ahmad mengatakan di era Soeharto fokus pendidikan sangat jelas seperti pembangunan SD Inpres untuk melancarkan akses sehingga menaikan angka APK dan menaikan IPM.

Pemerintah dan masyarakat, lanjutnya, merasa "taken for granted" yakni ketika sudah lulus SD/MI maka semua hal dasar dikuasai.

"Faktanya tidak. Kompetensi membaca masih tersisa yang buruk/kurang 47 persen, Sains 74 persen dan Matematika 77 persen," ujar Ahmad merujuk data INAP/AKSI tahun 2017.

Ahmad menilai pemerintah perlu segera menerbitkan "Inpres SD/MI" melengkapi "Inpres Revitalisasi SMK" dengan jargon "Dari SD Inpres menuju Inpres SD/MI". Penerbitan Inpres itu mengubah fokus akses ke mutu pendidikan.

"Jika untuk jangka pendek kebekerjaan pemerintah sudah terbitkan "Inpres Revitalisasi SMK", mengapa untuk sebuah investasi pembangunan manusia enggan terbitkan Inpres SD tentang Reorientasi Pendidikan pada jenjang SD/MI dan berfokus pada mutu," ujar Nanang.

Salah satu rekomendasi Bank Dunia adalah menyoroti peningkatan kualitas pembelajaran. Hal itu didasari tantangan yakni sebagian dasar siswa Indonesia tak belajar sebagaimana yang seharusnya dilakukan.

Pemerintah Indonesia, dari catatan Bank Dunia, dapat memastikan bahwa siswa setidaknya mencapai standar minimal pembelajaran dan pengembangan diri siswa di setiap jenjang sistem pendidikan.

Pembelajaran harus diarahkan dan didukung, dengan lebih menekankan untuk membantu guru dalam meningkatkan pengukuran hasil belajar dan keterampilan abad ke-21.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X