Pemerintah Mesti Pastikan Guru Berkualitas Tersebar di Indonesia

Kompas.com - 24/11/2019, 20:13 WIB
Lusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya DOK. TANOTO FOUNDATIONLusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya

KOMPAS.com - Kualitas guru akan banyak berperan dalam proses belajar mengajar. Kemampuan guru yang tinggi dibutuhkan di seluruh daerah di Indosia tak hanya di kota melainkan di desa-desa.

Hal itu sejalan dengan rekomendasi Bank Dunia yang baru-baru ini mengemuka lewat sebuah laporan yang berjudul "The Promise of Education in Indonesia".

Bank Dunia menyebutkan pemerintah Indonesia harus bisa memastikan Indonesia memiliki jumlah guru berkualifikasi tinggi di tempat yang membutuhkan.

Bank Dunia menekankan kebutuhan guru berkualifikasi tinggi meski tersedia khususnya di sekolah-sekolah yang berprestasi rendah, terpencil, dan di daerah pedesaan, serta memastikan para guru tersebut berkinerja sesuai kemampuan terbaiknya.

"Ada 55 persen guru PNS (sekitar 960.000 guru) yang akan pensiun dalam 10 tahun ke depan,dimulai dari tahun 2018," demikian tertulis di dalam laporan Bank Dunia.

Baca juga: Refleksi Hari Guru: Pengabaian di Ruang-ruang Kelas Kita

Saat merekrut guru baru, pemerintah mestinya hanya menyeleksi calon guru yang berkualifikasi tinggi dengan pengetahuan yang baik terhadap mata pelajaran yang akan diajarkan.

"Entah itu sebagai pegawai negeri ataupun guru kontrak dan guru honorer, serta mengujicobakan berbagai cara yang bisa meningkatkan akuntabilitas guru," lanjut rekomendasi Bank Dunia.

Promosi guru dan pendidikan berorientasi mutu

Pengamat pendidikan, Ahmad Rizali menyebutkan urusan guru sulit diselesaikan jika tak ada sebuah Badan Pengelola Guru yang langsung di bawah Presiden. Ia mengatakan mengurus guru idealnya sudah harus dari mempromosikan pentingnya menjadi guru kepada alumni terbaik SMA/SMK.

"Juga pendidikan di LPTK/Perguruan Tinggi (pre Service) yang tepat guna hingga pengembangan kompetensi (In Service) yang tepat guna dan jaminan pensiun serta pengelolaan organisasi profesi yang kondusif dan efektif dan sistem pengelolaan guru kabupaten/provinsi/nasional yang efektif," jelas Ahmad dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com.

Ia juga menekankan tentang pentingnya pendidikan yang berorientasi kepada mutu. Menurutnya, pemerintah sejarusnya fokus ke jenjang yang akan menyumbang terbesar ke masa depan (2030 dan 2045) yaitu fokus di jenjang SD/MI yang berorientasi kepada mutu.

"Terbitkan segera "Inpres SD/MI" melengkapi "Inpres Revitalisasi SMK" dengan jargon "Dari SD Inpres (fokus akses) menuju Inpres SD/MI (fokus mutu)"," ujarnya.

"Jika untuk jangka pendek kebekerjaan pemerintah sudah terbitkan "Inpres Revitalisasi SMK" mengapa untuk sebuah investasi pembangunan manusia enggan terbitkan Inpres SD tentang Reorientasi Pendidikan pada jenjang SD/MI dan berfokus pada mutu," lanjut Nanang.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X