6 Seruan Forum Semua Murid Semua Guru di Hari Guru Nasional 2019

Kompas.com - 25/11/2019, 08:30 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim saat berfoto bersama peserta  acara Temu Pendidik Nusantara, Sabtu (26/10/2019) di Sekolah Cikal, Cilandak, Jakarta. DOK. KOMPAS.com/LAVENNAMendikbud Nadiem Makarim saat berfoto bersama peserta acara Temu Pendidik Nusantara, Sabtu (26/10/2019) di Sekolah Cikal, Cilandak, Jakarta.

KOMPAS.com - Anak, sebagai subjek utama dalam pendidikan, hampir selalu dikorbankan.

Begitu banyak keputusan mulai keputusan harian di rumah dan kelas, keputusan penetapan anggaran setiap tahun hingga keputusan lima tahunan terkait pimpinan dan kebijakan nasional masih jauh dari percakapan yang berpihak pada anak.

Bahkan dalam percakapan sehari-hari para pendidik, guru dan orangtua, kecenderungannya lebih pada menyalahkan anak. Anak sebagai terdakwa dari segala macam keruwetan persoalan sambil lupa bahwa awalnya berakar pada keputusan dan tindakan orang dewasa.

Padahal pendidikan seharusnya berdiri pada keyakinan bahwa anak adalah potensi kebaikan yang tak terbatas. Peran pendidikan memfasilitasi potensi tersebut berbuah menjadi kebaikan nyata dalam kehidupan.

Baca juga: Refleksi Hari Guru: Pengabaian di Ruang-ruang Kelas Kita

Keyakinan dasar pendidik adalah percaya bahwa anak bisa berubah, bahwa anak bisa berkembang. Tanpa keyakinan tersebut, pendidikan hanya akan menjadi usaha yang absurd, melakukan tindakan yang sedari awal sudah diniatkan untuk gagal.

Bila anak tidak bisa berubah, lalu mengapa kita bersusah payah melakukan upaya pendidikan. Sejatinya, roh pendidikan berada pada sikap keperpihakan pada anak.

Dalam praktik yang kami lakukan, banyak bukti menunjukkan ketika guru menjadikan anak sebagai sekutu utama maka kualitas pengajaran akan meningkat. Anak yang menjadi sekutu utama guru akan merasa dipahami dan akan terlibat sepenuh hati dalam proses belajar.

Guru yang menjadikan anak sebagai sekutu utama lebih besar kemungkinannya menghasilkan praktik baik dan inovasi pengajaran. Sekolah yang memfasilitasi persekutuan guru dengan anak lebih berpotensi melibatkan orangtua dan mendapatkan dukungan dari komunitas yang lebih luas.

Sambut Hari Guru Nasional, Usman Djabbar Mappisona (Komunitas Guru Belajar Nusantara), Bukik Setiawan (Kampus Guru Cikal), Najelaa Shihab (Semua Murid Semua Guru) menyatakan seruan:

Komunitas Guru Belajar Nusantara

1. Mengajak semua guru untuk merefleksikan tujuan dan praktik pengajaran selama ini. Berapa banyak murid yang pernah kita dengarkan? Pernahkah menyediakan waktu bagi mereka untuk bercerita tentang diri atau tentang pengalaman-pengalaman mereka? Adakah waktu yang tersisa sekedar menyapa atau bertanya kabar tentang keluarga, cita-cita atau kesulitan-kesulitan yang mereka alami? Pernahkah kita mengajak mereka ke ruangan, menyuguhkan air minum sambil bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing? Pernahkah kita bertemu, berkenalan dan bercakap dengan keluarga mereka?

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X