Guru dan Tantangan Pendidikan Karakter

Kompas.com - 28/11/2019, 17:44 WIB
Siswa SD Negeri Joglo Solo mengikuti acara sungkem kepada guru untuk memperingati Hari Guru Nasional di halaman sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Senin (25/11/2019). Aksi simpatik tersebut sebagai bentuk apresiasi peran guru dalam mendidik siswa di sekolah. ANTARA FOTO/MAULANA SURYASiswa SD Negeri Joglo Solo mengikuti acara sungkem kepada guru untuk memperingati Hari Guru Nasional di halaman sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Senin (25/11/2019). Aksi simpatik tersebut sebagai bentuk apresiasi peran guru dalam mendidik siswa di sekolah.


GURU, adalah sosok yang “digugu” dan “ditiru”. Begitu filosofi yang sering kita dengar.

Artinya, guru memegang peran yang sangat penting dalam soal mendidik dan memberikan pengetahuan serta keteladanan kepada muridnya.

Lalu siapa saja yang bisa menjadi guru?

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menyampaikan, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah."

Orangtua, kakak, adik, saudara, tetangga, rekan kerja, atau siapa saja yang memberikan pengetahuan baru dan memiliki keteladanan bisa kita anggap sebagai guru.

Setiap rumah menjadi sekolah. Di rumah, orang tua kita mulai mengenalkan pendidikan termasuk pendidikan karakter. Orang tua adalah guru pertama bagi anaknya.

Keluarga menjadi tempat pertama bagi setiap individu membentuk karakternya, tempat segala kebiasaan dan budaya ditanamkan dalam lingkup terkecil masyarakat yang akan melekat dan dibawa oleh anak-anak dalam kehidupannya.

Saat ini, fokus pembangunan sumber daya manusia (SDM) Kemendikbud salah satunya adalah pendidikan karakter yang menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar, serta penyiapan generasi yang cakap dan terampil melalui jenjang pendidikan menengah dan pendidikan masyarakat.

Ini selaras dengan visi Presiden, agar pembangunan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, dan agama menjadi perhatian dunia pendidikan ke depan dan dirayakan dengan gembira.

Hasil pendidikan saat ini

Lalu apa hasil pendidikan kita saat ini?

Kita masih sering melihat peristiwa anak-anak sekolah dan orang-orang dewasa membuang sampah sembarangan, tidak mengerti cara mengantre, bersikap acuh tak acuh, bahkan kurang hormat terhadap orangtua dan guru, kurangnya sensitivitas, dan perkelahian antarwarga atau bahkan pelajar, perundungan, bahkan juga sikap-sikap intoleran di sekolah dan di masyarakat.

Kita juga menyaksikan perubahan perilaku zaman milenial yang mengarah pada gejala berkurangnya sosialisai dan interaksi antarindividu secara langsung, serta adanya kecenderungan menginginkan segala hal secara instan, padahal segala sesuatu bisa dicapai hanya melalui proses, yaitu melakukan kerja keras, disiplin, fokus, dan penuh kesabaran serta tidak mudah menyerah.

Kompetensi guru

Fokus persoalan karakter tidak melulu pada siswa tapi kita perlu merenungkan sudahkah guru-guru memiliki karakter yang baik, seperti yang diharapkan pada anak didik?

Dalam kenyataannya, terkait dengan guru, kita masih menemukan banyak persoalan dan tantangan yang tidak ringan.

Kunci utama keberhasilan pendidikan karakter di sekolah formal adalah kompetensi guru dari tingkat PAUD sampai pendidikan menengah dan atas.

Guru di sekolah formal diharuskan memiliki berbagai kompetensi di antaranya pedagogik untuk bisa membawa kelas secara dinamis, komunikatif, dan mampu mengatasi keberagaman siswa dalam kelas dengan mendisain program pembelajaran yang sesuai.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X