Guru dan Tantangan Pendidikan Karakter

Kompas.com - 28/11/2019, 17:44 WIB
Pelajar memberikan ucapan selamat dengan memeluk gurunya seusai upacara peringatan hari guru nasional dan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di MTsN Model, Banda Aceh, Aceh, Senin (25/11/2019). Peringatan hari guru nasional yang bertepatan dengan HUT ke-74 PGRI menjadi momentum memberikan penghargaan dan ungkapan terima kasih kepada guru yang telah mendidik serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi penerus pembangunan bangsa. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRAPelajar memberikan ucapan selamat dengan memeluk gurunya seusai upacara peringatan hari guru nasional dan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di MTsN Model, Banda Aceh, Aceh, Senin (25/11/2019). Peringatan hari guru nasional yang bertepatan dengan HUT ke-74 PGRI menjadi momentum memberikan penghargaan dan ungkapan terima kasih kepada guru yang telah mendidik serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi penerus pembangunan bangsa.

 

Hal yang tidak sederhana untuk mendidik anak-anak menjadi kreatif, bertanggung jawab, disiplin, memiliki etos kerja dan empati. Semua itu harus dimulai dari keluarga selama anak di rumah dan dilakukan oleh guru ketika di sekolah.

Guru dan murid harus memiliki kemerdekaan dalam belajar, mengasah kreativitas. Guru adalah penggeraknya, begitu kata Mendikbud Nadiem Makarim.

Birokrasi harus direduksi. Pekerjaan administratif yang menyita waktu dan tenaga guru diminimalkan.

Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah tidaklah cukup.

Satu lagi tugas guru yang krusial, ia harus mengajak siswa untuk bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.

Poin ini memiliki sasaran agar siswa memiliki karakter bergotong-royong sebagai budaya Indonesia dan memiliki sensitivitas terhadap lingkungan.

Pendidikan karakter berbasis budaya akan mengasah kemampuan kognitif, menumbuhkan logika berpikir sehingga sensitivitasnya terangkat.

Guru juga bukan sosok yang menguasai segalanya. Oleh karena itu, guru selayaknya memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas karena murid yang kreatif dan inovatif bisa menjadi guru untuk rekan-rekannya.

Yang tak tergantikan oleh digital

Era Revolusi Industri 4.0 yang sampai saat ini masih menjadi pembicaraan di kalangan dunia pendidikan menimbulkan banyak pertanyaan di benak setiap orang untuk dapat menerjemahkan maknanya.

Revolusi 4.0 yang mengoperasikan teknologi digital yang serba canggih, dari istilah internet of things sampai analisis big data dan istilah 5.0 yang sudah mengintip dengan peran artificial intelegent (AI), siap menggantikan peran-peran manusia.

Tapi, teknologi tidak untuk menggantikan peran guru, terutama dalam membangun karakter.

Kemampuan teknis sangat diperlukan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kemampuan soft skill lebih penting dan tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Jangan lupakan kemampuan intra dan interpersonal, yaitu kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Pada 2030, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Pada tahun itu, angkatan muda akan lebih banyak daripada angkatan usia tua. Generasi emas 2045 sudah harus disiapkan.

Karakter yang harus dibangun dalam pendidikan kita dalam rangka menyongsong Indonesia emas yaitu kejujuran, disiplin, kapabilitas memimpin, dan kerjasama dalam tim dan berkolaborasi, memiliki kecerdasan emosional, kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi apapun, memiliki sifat melayani (service orientation), serta kemampuan berbicara, bernegosiasi, kemampuan mencipta dan menjual produk, serta kemampuan merespons dan beradaptasi.

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X