Wisuda UMN XVI: Melirik Peluang Besar "Technopreneur" Industri Kreatif

Kompas.com - 01/12/2019, 10:08 WIB
Wisudawan dalam acara Wisuda XVI UMN di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD-Tangerang pada Sabtu (30/11/2019). DOK. UMNWisudawan dalam acara Wisuda XVI UMN di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD-Tangerang pada Sabtu (30/11/2019).

KOMPAS.com - Technopreneurship mengambil peran dalam industri kreatif. Dengan jiwa technopreneurship, suatu karya industri kreatif tidak hanya bisa dipercantik desainnya, melainkan juga ditingkatkan kualitas produksi dan ditepatkan waktu pengirimannya.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Multimedia Nusantara Ninok Leksono saat memberikan sambutan dalam acara Wisuda XVI UMN di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD-Tangerang pada Sabtu (30/11/2019).

Dikutip dari rilis resmi UMN, Ninok menyampaikan semakin banyak pemain di industri kreatif, semakin sengit pula persaingannya, maka peranan teknologi semakin kritis. Namun, teknologi saja belum tentu efektif jika tidak disertai dengan jiwa technopreneurship.

Di tengah peluang kerja tradisional yang makin terbatas dan peluang baru di era digital yang makin besar, UMN terus berupaya membentuk karakter lulusan yang memiliki jiwa technopreneurship.

Peluang besar technopreneurship

Baca juga: Mahasiswa dan Dosen D3 Perhotelan UMN Raih Penghargaan La Cuisine 2019

“Melalui pembaruan kurikulum, tata ulang metode pembelajaran seperti penerapan collaborative learning, ditambah dengan menu entrepreneurship dan juga motivasi untuk menjadi insan pembelajar yang adaptif, diharapkan mahasiswa UMN setelah lulus punya bekal untuk menjadi technopreneurship,” jelas Ninok.

Hasilnya, sebanyak 854 mahasiswa diluluskan pada seremoni Wisuda XVI UMN. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja dan berwirausaha sebelum diwisuda.

Pada kesempatan yang sama, pegiat digital dan pendiri tech-based company pertama di Indonesia bubu.com Shinta W. Dhanuwardoyo memaparkan saat ini peluang technopreneurship besar sekali. Untuk itu, para lulusan jangan takut untuk mencoba.

“Peluang technopreneurship dalam industri kreatif itu besar sekali. Tidak semua harus menjadi entrepreneur. Cobalah cara baru untuk mencari tempat yang kalian anggap cocok dengan apa yang menjadi identitas diri kalian dan juga passion kalian,” papar Shinta.

Shinta berharap para lulusan memiliki mimpi dan berani untuk mengeksekusinya.

“Dalam industri kreatif memiliki mimpi saja tidak cukup. Kalian harus memiliki mimpi dan berani untuk mengeksekusinya. Lakukanlah sesuai passion kalian,” harap Shinta.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X