Program "Merdeka Belajar", Kepala Sekolah Perlu Miliki Perspektif Baru

Kompas.com - 15/12/2019, 13:53 WIB
Jakarta Intercultural School (JIS) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI  Jakarta menyelenggarakan program Jakarta Principals Shadowing Program untuk peningkatan kompetensi manajerial kepala sekolah negeri melibatkan 22 pendidik pada 11-12 Desember 2019 di kampus Cilandak, JIS. DOK. JISJakarta Intercultural School (JIS) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan program Jakarta Principals Shadowing Program untuk peningkatan kompetensi manajerial kepala sekolah negeri melibatkan 22 pendidik pada 11-12 Desember 2019 di kampus Cilandak, JIS.

KOMPAS.com - Jangan dilupakan, kepala sekolah adalah juga kunci dari dunia pendidikan Indonesia. Mereka harus memiliki kualitas kepemimpinan baik dan mempunyai kemampuan berinteraksi bagus dengan seluruh pemangku kepentingan di sekolah.

Terkait hal itu, Jakarta Intercultural School (JIS) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI  Jakarta menyelenggarakan program "Jakarta Principals Shadowing Program".

Workshop ini merupakan program peningkatan kompetensi manajerial kepala sekolah negeri di lingkungan DKI Jakarta dan melibatkan 22 pendidik yang menghadiri program selama dua hari di bawah bimbingan pengajar berpengalaman dari JIS.

Pelatihan digelar pada dua gelombang, 12-13 November 2019 dan 11-12 Desember 2019 di kampus Cilandak, JIS.

“Ini adalah kesempatan bagi para kepala sekolah sehingga mereka dapat mengembangkan jaringan dengan para pengajar kami, sekaligus meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan siap menjawab berbagai tantangan dalam gerak laju dunia pendidikan Indonesia,” ujar Dr. Tarek Razik, Head of School, JIS.

Baca juga: Nadiem Sebut Program Merdeka Belajar Sangat Berkaitan dengan Guru

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tarek melihat kepala sekolah adalah kunci dari dunia pendidikan Indonesia. Sekolah berkualitas tak lepas dari peran kepala sekolah yang hebat.

Tantangan kepala sekolah saat ini

“Saat ini kepala sekolah bukan cuma pemimpin dalam pembelajaran. Kami ini penanggung jawab keseluruhan di sekolah, termasuk mengurus anggaran, laporan keuangan, administrasi dan pendataan aset," ujar Yenny Dwi Maria, Kepala Sekolah SMPN 211, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan banyaknya pekerjaan administratif  Yenny merasakan kepala sekolah akan kesulitan memantau proses belajar mengajar di sekolah sebagai tujuan utama pendidikan di sekolah.

Adriansyah, Kepala Sekolah SMAN 3, Setiabudi, Jakarta Selatan, juga mengungkapkan hal senada. Saat ini para pendidik sangat terbebani dengan Rencana Pelaksana Pembelajaran (RPP) yang sangat gemuk.

“Mereka harus bekerja untuk mencapai target berat tersebut. Akibatnya, RPP sifatnya administratif saja, bukan implementatif. Para guru tidak memiliki waktu banyak untuk berdiskusi dengan sesama guru, bahkan kepala sekolah yang juga sibuk dengan pekerjaan administratif,” ujarnya.

Harapan program "Merdeka Belajar"

Yenny dan Adriansyah pun menyambut baik rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, membuat RPP yang lebih ramping dalam kebijakan "Merdeka Belajar".

Dua pengajar berpengalaman, Greg Zolkowski dan Ryan Campbell, membimbing mereka secara langsung dalam kelas dengan berbagai topik inspiratif.

Program ini dijalankan dengan format belajar di kelas, diskusi dan pemecahan masalah. Tak hanya itu, para pemimpin sekolah juga diberi kesempatan mengikuti kegiatan keseharian para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah di Sekolah Dasar, SMP dan SMA JIS.

Topik yang diangkat, antara lain Menciptakan dan Memelihara Budaya Sekolah dan Kepemimpinan Instruksional.

Baca juga: Komisi X DPR Beri Masukan Program Merdeka Belajar, Ini Tanggapan Nadiem Makarim

“Mereka juga diharapkan dapat melakukan aktivitas kepala sekolah secara profesional sehingga dapat membuat lingkungan dan proses belajar dan mengajar yang lebih baik,” ujar Greg Zolkowski, koordinator program.

Perspektif baru kepala sekolah

Setelah mengikuti program, Adriansyah mendapat perspektif baru tentang cara memotivasi guru dan menciptakan proses mengajar yang lebih baik.

“Dalam program ini, saya didorong untuk membuat para guru lebih terbuka dan sering berdialog dengan sesama guru dengan berbagai cara kreatif, misalnya meja kerja dan ruang guru yang ditempeli gambar-gambar pendukung belajar," ujar Adriansyah.

Ia menambahkan, "Saya harus menuangkan hal-hal baru ini dalam action plan dan menjalankannya. Berdasarkan pengalaman JIS, hal-hal seperti ini bisa menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih baik juga di kelas.”

Yenny juga mendapatkan inspirasi yang sama. “Dalam program ini, saya terkesan dengan cara membangun budaya sekolah. Misalnya, semua guru diharapkan memberikan penampilan terbaiknya setiap hari.

"Bukan karena ada tamu, orangtua akan datang atau saat supervisi. Budaya sekolah memang dibangun secara jangka panjang dan menjadi tanggung jawab kepala sekolah sepenuhnya,” tambah Yenny.

Di tengah padatnya kesibukan, Yenny sendiri juga menginspirasi para guru dan murid di sekolah dalam bidang lingkungan dan literasi.

 

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X