Mendorong Semangat "Merdeka Belajar" ke Ranah Pendidikan Tinggi

Kompas.com - 15/12/2019, 15:22 WIB
Prof. Alan Tait (The Open University, Inggris) dan Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) dalam penelaahan mutu yang dilakukan ICDE (International Council for Open and Distance Education) di Universitas Terbuka (UT), 9-13 Desember 2019.

DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARProf. Alan Tait (The Open University, Inggris) dan Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) dalam penelaahan mutu yang dilakukan ICDE (International Council for Open and Distance Education) di Universitas Terbuka (UT), 9-13 Desember 2019.

Tidak hanya cara belajar, lewat teknologi sistem PJJ dan open learning ini membuat mahasiswa tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu dalam belajar.

"Mahasiswa bisa belajar kapan saja, di mana saja dan dalam keadaan bagaimana saja. Bahkan dengan modal smartphone dan jaringan saja, mahasiswa dapat mengakses materi belajar yang sudah disiapkan," jelas Prof. Ojat.

Kualitas " Merdeka Belajar" berbasis teknologi

Namun, Rektor UT juga menekankan pentingnya untuk tetap menjaga kualitas dan standar mutu dari semangat "Merdeka Belajar" ini.

"Saya sangat setuju untuk tetap menjaga mutu dan kualitas pembelajaran. Bahwa kita harus memiliki standar. Standar itulah yang dijadikan acuan oleh kita. Tidak boleh (standar) itu tidak ada," tegas Prof. Ojat mengingatkan.

Secara garis besar Prof. Alan menyampaikan ada 3 indikator nilai kualitas mutu UT di seluruh dunia; bagaimana manajemen UT mempersiapkan revolusi digital, bagaimana UT meningkatkan SDM dan bagaimana UT memperluas skalanya.

Baca juga: Pendidikan Tinggi Mesti Siapkan SDM Unggul

Tantangan UT di seluruh dunia saat ini menurut Prof. Alan adalah untuk meminimalkan dampak atau disrupsi dari penggunaan teknologi ini.

"Sama seperti bidang lain pendidikan perlu memikirkan bagaimana meminimalkan disrupsi dari teknologi ini. Bagaimana mahasiswa bisa tetap fokus belajar tanpa tergoda untuk menonton video, belanja oline atau mengintip sosial media," ujar Allan.

Rektor UT, Prof. Ojat menambahkan dibutuhkan instrumen yang memastikan bahwa pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan tanpa mengurangi kualitas mutu dari pembelajaran tersebut.

"Untuk itu harus ada quality guide line-nya. Kita perkuat guide line-nya. Ada standar kualitas di setiap lini, mulai dari rekrutmen pengajar, penentuan ujian, bagaimana melakukan tutorial, bagaimana melakukan interaksi belajar. Kita harus punya itu sebagai bagian dalam sistem kontrol kita," ujarnya.

"UT sebagai pelopor cyber university ditantang bagaimana menyediakan pembelajaran berkualitas bagi mahasiswa. Dalam semester ini sudah ada 9 universitas yang mengambil course secara online ke UT," ujar Prof. Ojat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X