Mendorong Semangat "Merdeka Belajar" ke Ranah Pendidikan Tinggi

Kompas.com - 15/12/2019, 15:22 WIB
Prof. Alan Tait (The Open University, Inggris) dan Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) dalam penelaahan mutu yang dilakukan ICDE (International Council for Open and Distance Education) di Universitas Terbuka (UT), 9-13 Desember 2019.

DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARProf. Alan Tait (The Open University, Inggris) dan Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) dalam penelaahan mutu yang dilakukan ICDE (International Council for Open and Distance Education) di Universitas Terbuka (UT), 9-13 Desember 2019.

KOMPAS.com - Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di pendidikan tinggi dapat menjadi sarana mengadaptasi semangat " Merdeka Belajar" yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim.

Di era teknologi, pemanfaatan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online and open learning system dipandang sebagai sebuah cara untuk pemerataan akses pendidikan dan juga kemerdekaan belajar di level pendidikan tinggi.

Hal ini disampaikan Prof. Alan Tait (The Open University, Inggris) dan Prof. Ojat Darojat (Rektor Universitas Terbuka) dalam penelaahan mutu yang dilakukan ICDE (International Council for Open and Distance Education) di Universitas Terbuka ( UT), 9-13 Desember 2019.

Penelaahan mutu ini dilakukan secara rutin setiap 3 tahun sekali oleh ICDE terhadap UT sejak tahun 2005 guna menjaga layanan pendidikan berbasis pendidikan jarak jauh (PJJ). 

"Ada lebih 60-90 sistem pembelajaran universitas terbuka di dunia. Ini menjadi tantangan bagi setiap perguruan tinggi lain untuk melakukan transformasi digital terhadap dosen, mahasiswa dan staff. Saya rasa ini menjadi isu besar pendidikan tinggi saat ini," ujar Allan.  

Baca juga: Pendidikan Tinggi Kembali ke Kemendikbud, Ini Tanggapan Akademisi

"Merdeka Belajar" di Pendidikan Tinggi

Prof Allan melihat transisi pembelajaran digital memberikan akses pemerataan kemerdekaan belajar bagi lebih banyak orang dan juga menjadi peluang besar bagi pendidikan tinggi.

"Mereka yang disabiltas, mereka yang tidak mampu, atau mereka yang berada di daerah terpencil dengan teknologi dan jaringan ini akan dapat mengakses pendidikan tinggi. Saya rasa ini peluang besar bagi setiap universitas ke depan," jelas Prof. Allan.

"Saya merespon apa yang disampaikan Bapak Mendikbud mengenai Merdeka Belajar. UT sudah melakukan itu. Merdeka Belajar artinya ada situasi ada skema di mana kita bisa memberikan berbagai alternatif kepada mahasiswa sesuai dengan kapasitas mahasiswa masing-masing," ujar Prof. Ojat Darojat Rektor UT.

Ia menyampaikan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online and open learning memungkinkan perguruan tinggi memberikan kemerdekaan kepada mahasiswa dalam menjalankan pembelajaran.

"Saya kira hal ini penting (menyediakan alternatif sesuai kapasitas mahasiswa) karena setiap mahasiswa unik dan berbeda. Ada mahasiswa yang suka membaca, ada yang belajar dengan mendengar, namun ada juga mahasiswa yang terlibat lewat pengalaman. Nah penting untuk menyediakan media belajar yang melihat keadaan mahasiswa ini," ujar Rektor UT.

Tidak hanya cara belajar, lewat teknologi sistem PJJ dan open learning ini membuat mahasiswa tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu dalam belajar.

"Mahasiswa bisa belajar kapan saja, di mana saja dan dalam keadaan bagaimana saja. Bahkan dengan modal smartphone dan jaringan saja, mahasiswa dapat mengakses materi belajar yang sudah disiapkan," jelas Prof. Ojat.

Kualitas "Merdeka Belajar" berbasis teknologi

Namun, Rektor UT juga menekankan pentingnya untuk tetap menjaga kualitas dan standar mutu dari semangat "Merdeka Belajar" ini.

"Saya sangat setuju untuk tetap menjaga mutu dan kualitas pembelajaran. Bahwa kita harus memiliki standar. Standar itulah yang dijadikan acuan oleh kita. Tidak boleh (standar) itu tidak ada," tegas Prof. Ojat mengingatkan.

Secara garis besar Prof. Alan menyampaikan ada 3 indikator nilai kualitas mutu UT di seluruh dunia; bagaimana manajemen UT mempersiapkan revolusi digital, bagaimana UT meningkatkan SDM dan bagaimana UT memperluas skalanya.

Baca juga: Pendidikan Tinggi Mesti Siapkan SDM Unggul

Tantangan UT di seluruh dunia saat ini menurut Prof. Alan adalah untuk meminimalkan dampak atau disrupsi dari penggunaan teknologi ini.

"Sama seperti bidang lain pendidikan perlu memikirkan bagaimana meminimalkan disrupsi dari teknologi ini. Bagaimana mahasiswa bisa tetap fokus belajar tanpa tergoda untuk menonton video, belanja oline atau mengintip sosial media," ujar Allan.

Rektor UT, Prof. Ojat menambahkan dibutuhkan instrumen yang memastikan bahwa pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan tanpa mengurangi kualitas mutu dari pembelajaran tersebut.

"Untuk itu harus ada quality guide line-nya. Kita perkuat guide line-nya. Ada standar kualitas di setiap lini, mulai dari rekrutmen pengajar, penentuan ujian, bagaimana melakukan tutorial, bagaimana melakukan interaksi belajar. Kita harus punya itu sebagai bagian dalam sistem kontrol kita," ujarnya.

"UT sebagai pelopor cyber university ditantang bagaimana menyediakan pembelajaran berkualitas bagi mahasiswa. Dalam semester ini sudah ada 9 universitas yang mengambil course secara online ke UT," ujar Prof. Ojat.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X