Sosok Bang Latip: Mentor Menulis Perjalanan, Dunia Kerja, dan Urusan Hidup

Kompas.com - 30/12/2019, 13:08 WIB
Bang Latip saat mendaki Gunung Gede via jalur Gunung Putri, Jawa Barat, dalam rangka Jambore 50 Tahun Mapala UI. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJOBang Latip saat mendaki Gunung Gede via jalur Gunung Putri, Jawa Barat, dalam rangka Jambore 50 Tahun Mapala UI.

RASANYA mau menangis lagi dan lagi saat menuliskan semua ini. Tergagap-gagap mengingat, terpatah-patah pula menuliskannya. Terlalu banyak kenangan.

“Elu kalau jalan-jalan, jangan kayak orang coli (masturbasi). Enaknya cuma sendirian. Kudu dibagiin ke orang. Ditulis,” ujar Bang Latip sambil ketawa tapi serius di suatu kesempatan berbagi ilmu menulis feature perjalanan di sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat, hampir 7 tahun yang lalu.

Gaya Bang Latip emang ceplas-ceplos. Bahasanya campur aduk. Kalau bercanda, sudah pasti nyerocos. Asli. Betawi tengab!

Dalam pikiran saya waktu pertama kali berkenalan, “Gile nih mentor omongannya. Bener juga. Hahaha...”

Suatu saat dia juga pernah menagih tulisan feature kepada saya. Arahannya jelas, yaitu mengirim tulisan sesegera mungkin setelah peristiwa terjadi.

“Tulisan mane, boy? Kirim buruan,” kata Bang Latip begitu dia tahu saya telah menyelesaikan Ekspedisi Lariang Sulawesi Tengah pada 2014. Waktu itu dia chat via Facebook.

Baca juga: Obituari yang Kekurangan Kata untuk Kong Latip...

Namanya Mohamad Latip alias Bang Latip. Dia adalah orang yang pertama mengajarkan saya menulis perjalanan gaya Mapala UI yang biasa dimuat di media massa.

Dia bilang waktu pelatihan menulis di Sekretariat Mapala UI, “Menulis itu udah kaya nembak. Kudu siapin pelurunya. Pelurunya, riset, riset, riset! Di lapangan jadi enak nanti, gak blo'on.”

Perkenalan dengan Bang Latip berjalan sekitar dua tahun di Mapala UI. Dia jadi salah satu tempat bertanya kalau urusan menulis.

Asyiknya, Bang Latip tidak segan buat membagi ilmu di sela kesibukannya kerja jadi wartawan Kompas.com. Dua tahun, saya gunakan kesempatan untuk belajar menulis dan dunia kewartawanan dari Bang Latip.

Bang Latip kadang-kadang mampir buat ngopi di halaman sekretariat sambil diskusi tulisan. Sengaja memang dia diundang buat bagi-bagi ilmu. Gayanya serius tapi santai kalau lagi belajar ilmu jurnalistik.

Saya dan Bang Latip merupakan anggota Mapala UI dengan perbedaan umur 13 tahun.

Meskipun beda umur cukup jauh, ada istilah di antara anggota Mapala UI yaitu “keluarga besar seumur hidup”. Artinya, antara anggota yang bahkan beda 30 tahun bisa akrab seperti keluarga.

Bang Latip juga salah satu orang yang memantik keinginan saya untuk jadi wartokaw, bahasa prokem alias slang buat kata wartawan.

Kok kelihatannya asyik juga ya jadi wartawan kalau dengar cerita Bang Latip. “Oke, boleh dicoba,” gumam saya dalam hati.

Sekantor di Palmerah

Elu ngapain, cuy, di sini? Mau aja masuk sini (Kompas.com),” tanya Bang Latip di lobi Redaksi Kompas.com Gedung Palmerah Selatan Lantai 5, sekitar awal Januari 2015.

Waktu itu kami tak sengaja bertemu setelah sesi wawancara lamaran kerja saya di Kompas.com untuk posisi wartawan. Saya sengaja tak menghubungi dia kalau saya sedang melamar kerja di Kompas.com.

Singkat kata, akhirnya saya berada satu naungan perusahaan tempat Bang Latip bekerja, Kompas.com.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X