Orang Muda Gagas Gerakan Literasi, dari Puskesmas sampai Penjara Anak

Kompas.com - 16/01/2020, 20:20 WIB
Michelle Setiawan, pelajar usia 16 tahun, membuat gerakan literasi unik: menjadikan puskesmas sebagai wadah menyalurkan buku-buku yang hendak diberikannya kepada khalayak. DOK. PRIBADI/MICHELLE SETIAWANMichelle Setiawan, pelajar usia 16 tahun, membuat gerakan literasi unik: menjadikan puskesmas sebagai wadah menyalurkan buku-buku yang hendak diberikannya kepada khalayak.

Karena itu, ia berharap anak-anak kecil yang berobat ke puskesmas juga bisa merasakan ketenangan sebelum berobat dengan dibacakan buku oleh orangtuanya.

“Puskemas kan banyak anak-anak kecil. Ibu dan ayahnya bisa cerita ke anak-anak kecil. Itu juga bisa jadi family bonding,” ujarnya lagi.

Saat ini, sudah beberapa puskesmas di Jakarta Selatan yang mendapat sumbangan buku, diantaranya Puskesmas Pulo dan Puskesmas Kebayoran Baru. Targetnya, Michelle bisa memberi sumbangan buku ke seluruh puskesmas yang ada di Jakarta.

“Sekarang kami masih cari-cari puskesmas yang lain,” ujarnya.

Aksi literasi ke penjara anak

Pemilihan tempat unik guna menjalankan aksi literasi juga dilakukan Mila Muzakkar. Membuat Generasi Literat, Mila menyasar peningkatan literasi untuk anak-anak yang masih mendekam di penjara.

Tidak sekadar memberi bahan bacaan kepada anak-anak yang ada di hotel prodeo, Mila bersama para relawan lainnya di Generasi Literat mengajak anak-anak tersebut memahami apa yang tertuang dalam bacaan mereka dengan cara yang kreatif.

Gerakan ini ia namakan sebagai Gerakan Literasi Damai.

Baca juga: Medan Dukung Merdeka Belajar, Literasi Siswa jadi Tantangan Utama

Diharapkan dengan memahami bacaan, anak-anak tersebut dapat mengambil nilai positif yang bisa memberdayakan dan membentuk kepribadian lebih baik.

Untuk tujuan tersebutlah, Mila sangat selektif dalam memberikan bacaan bagi anak-anak. “Baca buku dengan cara santai, tiduran oke, selonjoran oke. Kita juga sediakan camilan. Suasana yang kita bangun proses belajar yang menyenangkan,” ulasnya.

Dalam mengusung Gerakan Literasi Damai, Generasi Literasi yang sudah ia bangun sejak tahun 2017 itu bahkan membuat kurikulum untuk jangka waktu 3 bulan.

Tujuannya agar nilai-nilai kebangsaan yang hendak ditanamkan bisa benar-benar meresap kepada peserta. Sejauh ini, Gerakan Literasi Damai sudah mencapai 4 angkatan.

Diharapkan dengan memahami bacaan, anak-anak tersebut dapat mengambil nilai positif yang bisa memberdayakan dan membentuk kepribadian yang lebih baik.

Untuk tujuan tersebutlah, Mila sangat selektif dalam memberikan bacaan bagi anak-anak. Di mana rata-rata buku yang diberikan untuk jadi bacaan anak, yakni buku motivasi, pengembangan diri, kamus, hingga buku-buku keagamaan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X