Belajar Toleransi di Banuroja, "Desa Pancasila" Penuh Damai di Indonesia

Kompas.com - 28/01/2020, 19:12 WIB
Universitas Negeri Gorontalo bersama Pemerintah Kabupaten Pohuwato  mencanangkan Banuroja menjadi Desa Pancasila pada Kamis, 16 Januari 2019. Dok. KOMPAS.com/UNGUniversitas Negeri Gorontalo bersama Pemerintah Kabupaten Pohuwato mencanangkan Banuroja menjadi Desa Pancasila pada Kamis, 16 Januari 2019.

KOMPAS.com - Bila Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan penuh toleransi, sebuah desa di Gorontalo, tepatnya di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, bisa menjadi contoh nyata.

Warga di Desa Banuroja berasal dari 9 suku, yaitu Lombok, Gorontalo, Sangihe, Flores, Minahasa, Bali, Jawa, Toraja dan Batak. Tak hanya suku yang beragam, di desa ini terdapat 3 agama yang berbeda yakni Islam, Kristen, dan Hindu.

Walau dihuni oleh warga dari suku dan agama berbeda, lebih dari sepuluh tahun, tidak pernah ada laporan kriminal yang tercatat di Polsek Randangan yang berlokasi di desa tersebut.

Toleransi tetap dijunjung tinggi oleh warga Desa Banuroja walau berbagai macam praktek intoleransi kini kerap ditemui di sejumlah wilayah di Indonesia. Intoleransi telah menjadi bara konflik yang meresahkan dan berpotensi menghambat kemajuan negeri.

Baca juga: 3 Syarat Pendidikan Karakter Berjalan Efektif

Atas pertimbangan tersebut, Universitas Negeri Gorontalo bersama Pemerintah Kabupaten Pohuwato mencanangkan Banuroja menjadi "Desa Pancasila" pada Kamis, 16 Januari 2019.

UNG dan Pemkab Pohuwato melihat, Indonesia perlu model praktek toleransi yang diharapkan mampu menjadi virus kebaikan bagi daerah lain.

"Kami [UNG dan Pemkab Pohuwato] memiliki ikhtiar untuk menjaga keberagaman dan toleransi di Indonesia. Desa Banuroja adalah contoh keteladanan pengelolaan keberagaman dan toleransi di Indonesia," tutur Eduart Wolok yang merupakan Rektor Universitas Negeri Gorontalo, dalam rilis resmi yang diterima Kompas.com

Kesuksesan warga dan aparatur desa dalam menjunjung tinggi toleransi tentu bukan tanpa usaha.

Desa Banuroja memiliki kelembagaan lokal untuk mengatasi berbagai macam konflik lokal. Itulah alasan mengapa selama sepuluh tahun tak ada catatan kriminal di desa tersebut.

"Banuroja sebagai Desa Pancasila ini adalah hasil praktek toleransi selama puluhan tahun. Penetapan Banuroja sebagai Desa Pancasila adalah persembahan kami untuk Indonesia. Kita perlu membumikan Pancasila bukan saja sebagai ideologi bangsa, namun bagian dari praktek keseharian dari semua insan Pancasila di Indonesia," jelas Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga.



Sumber Rilis
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X