Bukan Dimarahi, Ini Cara Mendidik Anak Saat Berkelahi atau Menyakiti Teman

Kompas.com - 10/02/2020, 20:30 WIB
Ilustrasi dampak buruk membandingkan anak dengan orang lain. SHUTTERSTOCKIlustrasi dampak buruk membandingkan anak dengan orang lain.

KOMPAS.com - Beberapa waktu belakangan, kekerasan di kalangan pelajar begitu nyaring terdengar, mulai dari tawuran hingga aksi klitih Yogyakarta. Walau menimbulkan keresahan, namun aksi-aksi tersebut sangat mungkin dikendalikan bila sejak kecil anak dibekali ruang untuk melepas emosi.

Merangkum dari laman resmi Sehabat Keluarga Kemendikbud, tindakan agresif saat remaja tersebut bisa dipicu dari bagaimana orangtua merespon prilaku agresif anak sejak ia masih kecil.

Saat tindakan agresif anak terus dimaklumi (karena menganggap anak masih kecil), atau justru orangtua meresponnya dengan tindakan agresif juga (balas memarahi dan melalukan tindakan fisik seperti mencubit atau memukul), itulah yang akhirnya membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang suka menyerang dan menyakiti orang lain.

Itu sebabnya, orangtua dan guru perlu melakukan langkah efektif saat anak menunjukkan sikap agresif di rumah maupun di sekolah.

Baca juga: Cara Mendidik Anak Usia Sekolah agar Suka Menolong

Diharapkan, saat remaja dan dewasa, mereka dapat menuangkan emosinya dalam panggung yang lebih positif, alih-alih melampiaskannya dalam bentuk tawuran atau tindak kekerasan.

Tak ada niat menyakiti

Saat anak masih usia balita hingga sekolah dasar, sikap agresif biasanya dipicu oleh beberapa faktor, seperti rasa cemburu, marah, gemas, bentuk pembelaan ataupun rasa iseng yang tiba-tiba masuk ke dalam dirinya.

Bisa juga akibat banyaknya tontonan televisi yang memerlihatkan adegan pertarungan. Sehingga anak dengan mudah meniru tindakan tersebut. Salah satu tindak agresivisme yang sering dilakukan anak-anak adalah menjambak rambut teman atau memukul.

Walau begitu, anak-anak sebenarnya tidak 100 persen ingin menyakiti temannya, melainkan sebagai bentuk ekspresi emosi. Sehingga, bentuk ekspresi emosi inilah yang perlu diarahkan oleh orang tua. Bahwa marah atau kesal sangat boleh dirasakan, namun cara mengekspresikannya harus benar.

Berikut beberapa hal yang dapat orangtua dan guru lakukan saat anak sering "menyakiti" temannya, merangkum Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X