Tito Karnavian: Banyak Daerah yang Belum Paham Persoalan Minat Baca

Kompas.com - 27/02/2020, 17:45 WIB
Seorang anak sedang serius membaca buku di Saung Baca Cianjur, Jawa Barat yang didirikan mantan cleaning service, Sandi Mulyadi (36) KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANSeorang anak sedang serius membaca buku di Saung Baca Cianjur, Jawa Barat yang didirikan mantan cleaning service, Sandi Mulyadi (36)

KOMPAS.com -  Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Namun, potensi demografi dan geografi tidak menjadikan Indonesia negara yang unggul. Perhatian dan dukungan yang kurang dari pemerintah daerah dianggap sebagai salah satu kendala mengapa perkembangan perpustakaan dan kegemaran membaca belum membaik.

"Banyak daerah yang belum paham persoalan tentang minat baca," terang Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam siaran pers yang diterima Kompas.com saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Perpustakaan Nasional 2020 di Jakarta

Opini internasional seringkali menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada posisi rendah. Namun, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, meminta semua pihak tidak perlu lagi ribut-ribut soal rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. 

Hal yang menjadi penting adalah membangun kegemaran masyarakat lewat membaca dapat dilakukan dengan cara memenuhi hak masyarakat untuk membaca.

"Kita berharap semua bisa memahami, tidak penting lagi ribut soal kegemaran membaca itu rendah. Namun akses mendapatkan bahan bacaan yang diperluas. Apalagi mayoritas penduduk Indonesia tinggal di daerah pelosok, dan terpencil. Membangun kegemaran masyarakat sebenarnya meningkatkan indeks literasi,” jelasnya.

Baca juga: Mendagri Sayangkan Banyak Pemda Belum Paham Pentingnya Minat Baca Masyarakat

Pengetahuan menjadi sangat penting. Dan kunci untuk memunculkan sumber daya yang unggul selain faktor kesehatan juga harus terdidik dan terlatih. Pengetahuan bisa diperoleh dari sumber-sumber bacaan yang tersedia.

Dengan seringnya membaca maka muncul berbagai inovasi, ide, gagasan, sehingga mampu menghasilkan keputusan yang cepat.

Secara khusus, Syarif Bando mengharapkan agar setiap daerah menerbitkan dan memperbanyak sumber-sumber bacaan yang berkaitan dengan kekayaan alam ataupun potensi daerahnya.

Tidak ada guru yang mengajarkan tentang kedaerahan, tapi banyak buku yang menginformasikan asal usul, adat istiadat dari suatu daerah.

Ini yang harus disadari para pemerintah daerah dan berupaya keras menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X