"Bullying di Sekolah, Siswaku Sayang Maafkan Gurumu..."

Kompas.com - 04/03/2020, 20:00 WIB
Ilustrasi Thinkstockphotos.comIlustrasi

Oleh: Titien Suprihatien, Guru SMPN 11 Batanghari

Bully terkadang berawal dari ketidaksengajaan, tidak hanya dilakukan oleh siswa namun ada kalanya kami ( guru) juga keceplosan.”

KOMPAS.com - Tidak bisa dipungkiri kehidupan anak-anak penuh dengan canda tawa, terlebih saat mereka bersama di sekolah. Sekolah menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya jiwa dan raga siswa.

Segala interaksi terjadi akan mempengaruhi hati dan rasa yang mereka punya.

Namun, ada banyak juga interaksi yang menyebabkan terjadinya bully pada siswa, baik dilakukan oleh sesama siswa, atau siswa membully gurunya.

Bahkan bullying atau perundungan tak sengaja terkadangpun terucap dari lidah sang guru.

Body Shaming

Body shaming kerap terjadi di sekolah, ini adalah jenis bullying verbal. Seorang siswa menyapa temannya dengan penggilan negatif, mengomentari dan menghina fisik.

Ada banyak panggilan negatif seperti: “pik itam” artinya gadis hitam, “buntal” artinya gendut, “tengkot” atau pincang, “bleng” berarti kulitnya panuan.

Terkadang tersirat sebagai candaan anak-anak, namun tak jarang juga menyebabkan perkelahian.

Anak-anak tertentu terkadang tidak bisa menerima ejekan temannya. Korban ejekkan cenderung menjadi pendiam dan menarik diri dari komunitas di kelasnya, menjadi pendiam dan tidak bisa belajar dengan nyaman.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X