Ibunda Jokowi Sujiatmi Notomiharjo dan Warisan Nilai Mendidik Keluarga

Kompas.com - 26/03/2020, 15:10 WIB
[ARSIP FOTO] Ibunda Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo mengikuti peluncuran buku anaknya yang berjudul Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar di Jakarta, Jumat (14/9/2012). Ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo meninggal dunia di Solo pada Rabu, 25 Maret 2020 pukul 16:45 WIB. ANTARA FOTO/DHONI SETIAWAN[ARSIP FOTO] Ibunda Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo mengikuti peluncuran buku anaknya yang berjudul Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar di Jakarta, Jumat (14/9/2012). Ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo meninggal dunia di Solo pada Rabu, 25 Maret 2020 pukul 16:45 WIB.

Ia mengajarkannya dengan cara mengajak anak-anak banyak bersyukur agar mereka mengenal kata cukup.

“Harta itu titipan. Jangan dianggap kalau kita punya harta itu punya kita sendiri. Harta itu titipan Gusti Allah. Saya itu nggak patiyo (tidak terlalu) mikir harta. Anak-anak saya biar nanti cari sendiri, sudah dikasih rezeki sendiri. Orang hidup itu kalau sudah cukup ya sudah. Jangan serakah-serakah, cukup saja,” katanya.

Kepatuhan dan bekerja keras

Menurut Sujiatmi, sikap melawan yang dilakukan anak terhadap orangtua, biasanya muncul karena kedua orangtuanya tidak kompak. Saat anak dimarahi ayahnya, ibunya membela, atau sebaliknya ayah membela anak atas keputusan ibu.

Karena itulah dalam mendidik kepatuhan, Sujiatmi dan sang suami memilih selalu konsisten. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Namun, satu hal yang dijaga, ia tak menggunakan kekerasan fisik dalam mendidik.

Konsistensi juga ditunjukkan Sujiatmi dan sang suami dalam hal kerja keras. Mereka menunjukkan betapa sulitnya dalam berusaha, namun selama berusaha diusahakan tak pernah mengeluh di depan anak-anak.

Baca juga: Asah Kecerdasan Anak, Bacakan 5 Dongeng Klasik Terpopuler di Dunia Ini

Ketika anak-anak menghadapi masalah pun, Sujiatmi juga berusaha tidak menyalahkan anak-anak ketika mereka menghadapi persoalan.

“Saya ndak pernah nutuh (menyalahkan). Orang yang sedang menghadapi persoalan itu sudah susah. Kalau kita nutuh, itu bikin ia makin susah,” kata Sujiatmi.

Anak harus berpendidikan tinggi

Dalam kesehariannya mendidik dan mengurus anak, Sujiatmi juga merupakan seorang ibu pekerja keras yang membantu suaminya dalam berdagang kayu.

“Saya hanya membantu suami. Suami mencari glondong (kayu), saya di perusahaan. Kakak saya, usaha kayunya jauh lebih besar. Bagi saya yang penting cukup untuk sekolah anak-anak, tidak harus kaya raya,” tutur Sujiatmi.

Sujiatmi kecil memang lahir dari keluarga pedagang kayu di Dusun Gumukrejo, Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Sujiatmi adalah perempuan satu-satunya, dari tiga bersaudara yang dilahirkan pada 15 Februari 1943.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X