Akademisi UGM: Ini Bentuk Perilaku Baru Karena Wabah Corona

Kompas.com - 08/05/2020, 16:23 WIB
Ilustrasi cuci tangan untuk tetap menjaga kebersihan. SHUTTERSTOCK/MARIDAVIlustrasi cuci tangan untuk tetap menjaga kebersihan.
|

KOMPAS.com - Sejak ada virus corona atau Covid-19 di dunia, kehidupan menjadi berubah. Pasalnya, sampai saat ini virus tak kasat mata itu telah menjangkiti lebih dari 3 juta orang positif di seluruh dunia.

Bahkan di Indonesia, angka kematian infeksi Covid-19 relatif tinggi. Ada lebih dari 12.000 kasus positif dan lebih dari 900 orang meninggal dunia.

Segala upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan dan memutus rantai penyebaran virus corona, yakni dengan menerapkan social distancing dan physical distancing.

Hanya saja, semua dibutuhkan peran serta seluruh elemen. Mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintah dan ini membuat banyak pihak melakukan penyesuaian diri.

Baca juga: Akademisi UGM: Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Konsumsi Prebiotik

"Apabila menilik dari status pandemi yang ditetapkan WHO pada Covid-19 ini kita dapat membayangkan betapa pada kehidupan kita sebelum ini merupakan kondisi yang sangat ideal bagi penyebaran dan perkembangbiakan virus," ujar Prof. Apt, Edy Meiyanto, M.Si., PhD, Cancer Chemoprevention Research Center Fakultas Farmasi UGM, seperti dikutip dari laman UGM, Jumat (8/5/2020).

Rajin cuci tangan

Dengan adanya wabah virus corona ini, tentu menghadirkan perilaku baru di tengah masyarakat, seperti tindakan sederhana mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker.

Kedua tindakan tersebut mungkin dianggap sebagai sesuatu yang asing di masa lalu. Tetapi saat ini adalah suatu keharusan.

Seolah-olah, kebiasaan mencuci tangan menjadi suatu terobosan mutakhir yang terasa mewah. Hal ini menunjukkan betapa masyarakat di masa lalu tidak terbiasa berperilaku dengan gaya hidup bersih dan sehat.

"Sebelum Covid-19, orang tidak akan ambil pusing ketika harus bepergian atau berinteraksi dengan orang lain. Mungkin dianggap tidak umum melakukan cuci tangan selepas menggunakan atau menyentuh fasilitas umum," katanya.

Etika batuk dan bersin

Tak hanya itu saja, kini soal etika batuk dan bersin yang benar juga menjadi perhatian. Hal ini mungkin dianggap berlebihan jika harus menggunakan masker di tempat-tempat umum.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X