Kompas.com - 13/05/2020, 07:00 WIB
Suasana lenggang di kompleks Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk pencegahan penyebaran infeksi Covid-19 , Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan mengubah bentuk kuliah tatap rnuka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak hari Rabu, 18 Maret 2020 hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSuasana lenggang di kompleks Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk pencegahan penyebaran infeksi Covid-19 , Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan mengubah bentuk kuliah tatap rnuka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak hari Rabu, 18 Maret 2020 hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020.

KOMPAS.com -  Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemendikbud), Nizam mengatakan pandemi COVID-19 secara tidak langsung telah membuat banyak perguruan tinggi yang mengaplikasikan pembelajaran daring.

Bahkan momentum pandemi COVID-19 ini memaksa banyak pihak untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring dalam waktu yang sangat cepat.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber pada seminar daring yang digelar oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Provider Indonesia (Kopertip) yang mengusung tema "Dampak COVID-19 pada Pendidikan Nasional", Selasa (12/5).

“Saat ini perguruan tinggi maupun swasta di Indonesia telah melakukan pembelajaran daring dengan baik. Meskipun ada keluhan kendala pada koneksi, namun semua berjalan baik," ungkap Nizam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Berkaca dari pembelajaran daring yang ada di negara lain, saat ini pembelajaran daring di Indonesia memang belum 100 persen dikatakan sempurna.

Nizam mengungkapkan, pembelajaran daring di Indonesia perlu memliki resources yang banyak, misalnya perguruan tinggi harus menyiapkan back up bagi mahasiswa dan mentor/tutor harus siap menjawab semua pertanyaan dari mahasiswanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pembelajaran jarak jauh tidak cukup hanya melalui kuliah daring dan unggah materi perkuliahan, namun asesmen juga perlu dilakukan secara daring," tuturnya.

Baca juga: Covid-19, Penyesuaian Uang Kuliah Mahasiswa Kampus Negeri Diserahkan ke Rektor

Melalui momentum pandemi Covid-19 ini, Nizam berharap semua orang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran daring yang seutuhnya. Nantinya setelah pandemi ini berakhir, pembelajaran daring akan tetap menjadi pengayaan.

Menurutnya, pendidikan tetap memerlukan proses tatap muka karena tidak hanya melakukan transfer ilmu, tetapi tetap membutuhkan interaksi di dalamnya.

COVID-19 menyebar di Indonesia sejak Maret 2020. Meskipun membatasi ruang gerak manusia, tetapi Nizam tetap memandang sisi positifnya.

Ia mengatakan bahwa adanya pandemi ini justru juga mempercepat penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa.

Contohnya saja pembuatan alat ventilator yang biasanya membutuhkan waktu 1-2 tahun, kini dalam waktu singkat dapat diselesaikan.

"Ini menjadi contoh positif yang juga memanfaatkan pembelajaran jarak jauh," tutupnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.