Anies Baswedan: Pendidikan Jadi Instrumen untuk Rekayasa Masa Depan

Kompas.com - 14/06/2020, 10:05 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat konferensi pers terkait PSBB masa transisi di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (4/6/2020) Kompas.com/ BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJARGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat konferensi pers terkait PSBB masa transisi di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (4/6/2020)

KOMPAS.com - Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menghadiri (zoom meeting) Focus Group Giscussion ( FGD) dalam rangka menjaring aspirasi organisasi profesi, pakar dan organisasi pendidikan (10/6/2020).

Dalam kesempatanya Anies menuturkan pentingnya instrumen rekayasa dalam pendidikan. “Kita menyadari pendidikan itu adalah satu instrumen untuk rekayasa masa depan dan kita menyadari siapa dididik apa menentukan duduk dimana” Kata Anies.

Ia melanjutkan “karena pendidikan benar-benar punya efek apa yang bisa diperankan di kemudian hari, potensi berkembang di pendidikan,” ungkap Anies.

Baca juga: Ini Syarat Usia Jenjang PAUD, SLB, SD dan SMP pada PPDB DKI Jakarta

Menurut Anies diskusi kali ini bukan berbicara mengenai konten pendidikannya, tapi pendidikan bagian dari struktur masyarakat karena ini penerimaan siswa

“Artinya siapa akan disekolahkan di mana, siapa akan dididik di mana, bukan berbicara ketika sudah di dalam sekolah,” ucap Anies.

Gubernur DKI Jakarta ini mengajak untuk merefleksi ke belakang bagaimana pendidikan di Indonesia pada masa lalu.

Peran penting pendidikan

“Karenanya izinkan saya mengajak untuk refleksi sedikit kepada masa sebelumnya, pada saat kita merdeka tingkat buta huruf 95 persen, melek huruf sekitar 5 persen,” ungkap Anies.

Anies menuturkan “lalu pemerintah menggalang gerakan pemberantasan buta huruf, tentu tujuannya adalah mendidik masyarakat.”

Mantan Mendikbud ini kemudian menganalogikan bagaimana pada masa lalu orang bisa diajak berperang tetapi tidak bisa menulis.

“Karena bisa dibayangkan kalau masyarakat tidak melek huruf itu, diajak perang bisa, diajak bertempur sanggup, berani, mengumpulkan masa bisa, tapi dikasih selembar kertas disuruh tulis nama tidak bisa,” ujar Anies Baswedan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X