Kemendikbud: Jangan Sampai Kampus Jadi Klaster Penyebaran Covid-19

Kompas.com - 16/06/2020, 12:12 WIB
Ilustrasi ujian Suneung di Korea Selatan. (AFP/Jung Yeon-Je) Ilustrasi ujian Suneung di Korea Selatan. (AFP/Jung Yeon-Je)

KOMPAS.com - Berbeda dengan pendidikan dasar dan pendidikan menengah, mahasiswa perguruan tinggi bisa berasal dari 34 provinsi dengan kondisi daerah yang beragam.

Itulah mengapa, menjelang pelaksanaan semester baru tahun akademik 2020/2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menekankan agar kampus jangan sampai menjadi klaster baru penyebaran pandemi Covid-19.

Hal tersebut dipaparkan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Prof. Nizam secara daring pada Workshop Operasionalisasi Kebijakan Penyelenggaraan Kegiatan Akademik dalam Tatanan Normal Baru di Lingkungan Universitas Padjadjaran.

Baca juga: Mendikbud: Perguruan Tinggi di Semua Zona Dilarang Kuliah Tatap Muka

Ia mengatakan, pembelajaran di kampus tetap berjalan sesuai jadwal kalender akademik yang ada.

Namun, metode pembelajaran dilakukan secara daring hingga akhir semester atau sampai ada arahan lebih lanjut dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19.

Berbeda dengan pendidikan dasar dan pendidikan menengah, lanjut dia, perguruan tinggi mahasiswanya berasal dari 34 provinsi dengan kondisi yang beragam.

" Perguruan tinggi mungkin berasal dari zona hijau tetapi mahasiswanya bisa saja berasal dari zona merah. Jika kita membuka kampus, akan terjadi mix sehingga potensial sekali menjadi klaster baru. Kita tekankan, kampus jangan sampai menjadi klaster baru penyebaran pandemi Covid-19,” ujar Prof. Nizam Senin (15/6/2020), seperti dirangkum dari laman Unpad.

Baca juga: 8 Kampus Terbaik Indonesia di Pemeringkatan Dunia QS WUR 2021

Oleh karena itu, rencana arah kebijakan yang diambil ialah pembelajaran dari rumah, pembelajaran teori dengan daring, layanan administrasi, bimbingan mahasiswa, wisuda dan pengambilan sumpah juga dengan daring.

“Praktikum dan tugas, sebisa mungkin dialihkan ke daring. Penelitian tugas akhir diarahkan untuk studi data sekunder," kata dia.

Sementara bila mahasiswa harus melakukan praktik di laboratorium, bisa dilakukan pengecualian dengan menggunakan protokol yang ketat.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X