Forum Cendekia Kelas Dunia 2020, Majukan Ilmu Pengetahuan Indonesia

Kompas.com - 18/08/2020, 15:42 WIB
Guna menciptakan wadah bagi para cendekia Indonesia kelas dunia, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kembali menggelar kegiatan Forum Cendekia Kelas Dunia secara daring media Zoom mamupun kanal Youtube I-4 Media, Selasa dan Rabu (18-19/8/2020). Dok. KOMPAS.com/AYUNDA PININTA KASIHGuna menciptakan wadah bagi para cendekia Indonesia kelas dunia, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kembali menggelar kegiatan Forum Cendekia Kelas Dunia secara daring media Zoom mamupun kanal Youtube I-4 Media, Selasa dan Rabu (18-19/8/2020).

KOMPAS.com – Tak sedikit anak bangsa yang mampu menjadi ilmuwan hebat dan memiliki kiprah di mancanegara. Sayangnya, ilmu dan kompetensi mereka belum dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan bangsa.

Guna menciptakan wadah bagi para cendekia Indonesia kelas dunia untuk berkolaborasi, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kembali menggelar kegiatan "Forum Cendekia Kelas Dunia" secara daring media Zoom maupun kanal Youtube I-4 Media.

Sebanyak 1.200 peserta mengikuti Forum Cendekia Kelas Dunia 2020, termasuk 186 Diaspora dari 28 negara, pada Selasa dan Rabu (18-19/8/2020).

Baca juga: Kemendikbud: Daftar 15 PTN yang Masuk Klaster 1 Perguruan Tinggi

Sejak tahun 2017 hingga 2019, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tingg (Kemenristekdikti) berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah menyelenggarakan program tahunan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang mempertemukan Ilmuwan Diaspora Indonesia dari berbagai negara dengan Ilmuwan dari perguruan tinggi dan institusi riset dalam negeri.

Forum ilmiah tersebut telah berhasil memberikan kesempatan kepada para akademisi Indonesia di dalam dan luar negeri untuk saling berbagi informasi dan wawasan keilmuan serta membangun kerja sama yang positif baik antar individu maupun antar institusi terkait.

Krisis yang melahirkan inovasi baru

Komunikasi dan kolaborasi antarpeneliti dinilai menjadi upaya penting guna meningkatkan inovasi dan riset-riset demi menjayakan pengetahuan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Forum Rektor Indonesia sekaligus Rektor IPB University Arif Satria dalam pembukaan acara.

Arif juga menuturkan bahwa optimisme adalah modal untuk maju dan berharap para ilmuwan dapat tetap optimis untuk melakukan riset-riset.

Baca juga: 10 Prodi Saintek dan Soshum dengan Nilai UTBK Tertinggi di SBMPTN 2020

"Ilmuwan muda harus membawa optimisme, tugasnya harus selalu menginspirasi, mendorong untuk untuk bergerak maju. Saya yakin kita semua sangat optimis dan terus melahirkan inovasi," paparnya.

Optimisme juga, lanjut dia, yang bisa membuat seseorang atau negara bertahan menghadapi masa krisis, seperti krisis akibat Covid-19 yang kini sedang terjadi.

Ia mencontohkan, optimisme telah melahirkan banyak inovasi di tengah krisis. Misalnya saat Perang Dunia II, kondisi saat itu menuntut banyak pihak melakukan inovasi-inovasi untuk memenangkan perang.

Dan di masa pandemi Covid-19, pembuatan vaksin Covid-19 menjadi sebuah bentuk inovasi yang sedang dan akan terus dilakukan.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Obat Herbal Penurun Asam Urat

Kemendikbud dorong cendekia kelas dunia dukung mahasiswa Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan, bila negara ingin maju, maka negara tersebut harus melakukan inovasi.

"Itulah letak pentingnya pendidikan tinggi dan hadirnya para cendekia di dalamnya," tutur Nizam.

Untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul, Nizam berharap para peneliti Indonesia baik di dalam negeri maupun yang sedang berkiprah di luar negeri untuk giat berbagi ilmu bagi para mahasiswa.

Menurutnya, pandemi telah membuat penggunaan teknologi kian maksimal dan memudahkan kolaborasi hingga berbagi ilmu.

Baca juga: Ingin Kuliah S1-S2 ke Selandia Baru? Ada Beasiswa Senilai Rp 100 Juta

"Teknologi di masa pandemi membuat jarak menjadi tidak ada maknanya, karena menggunakan teknologi, sehingga kehadiran cendekia untuk berbagi ilmu dengan mahasiswa sangat mungkin," paparnya.

Dengan kebijakan Kampus Merdeka, lanjut Nizam, mahasiswa memiliki 1 semester untuk mengambil mata kuliah dari luar prodi.

"Kami berharap teman-teman cendekia kelas dunia dapat menawarkan mata kuliahnya untuk mahasiswa kita dan kreditnya bisa ditransfer ke perguruan tinggi asal mereka," harap Nizam.

Nizam juga mengatakan, mahasiswa juga memiliki kesempatan sebanyak 2 semester belajar ke luar kampus, bahkan berkesempatan melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri.

Baca juga: Kampus Terbaik di Australia Buka Beasiswa S1-S2 Senilai Rp 250 Juta

"Misalnya ikut penelitian mengambil mata kuliah di Jepang, Jerman, Inggris atau Australia. Silakan teman-teman cendekia kelas dunia yang dari kampus-kampus luar negeri mohon dibantu anak-anak kita agar punya pengalaman, kompeteni dan wawasan luas dari berbagai perguruan tinggi dunia," imbuh dia.

Kemendikbud berharap, dengan pembelajaran daring para cendekia bisa lebih mudah berbagi ilmu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X