Sekolah di Akhir Pekan, Guru dan Siswa Pekanbaru Semangat Pantang Menyerah

Kompas.com - 14/09/2020, 19:35 WIB
Untuk menyiasati HP yang dibawa orangtua bekerja, Tri Heni guru SDN 25 Pekanbaru, Riau mengajak siswanya belajar daring di akhir pekan. Pada hari kerja biasanya tidak lebih dari 10 siswa yang bisa mengikuti pembelajaran daring, saat dilaksanakan pada akhir pekan ada 25 siswa yang bisa mengikuti pembelajaran. DOK. TANOTO FOUNDATIONUntuk menyiasati HP yang dibawa orangtua bekerja, Tri Heni guru SDN 25 Pekanbaru, Riau mengajak siswanya belajar daring di akhir pekan. Pada hari kerja biasanya tidak lebih dari 10 siswa yang bisa mengikuti pembelajaran daring, saat dilaksanakan pada akhir pekan ada 25 siswa yang bisa mengikuti pembelajaran.

KOMPAS.com - Seringkali siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh secara daring karena gawai atau HP harus berbagi dengan orangtua yang bekerja. Hal itu juga yang dialami Tri Heni Endang Rochana Pamiluwati, guru Kelas VI SDN 25 Pekanbaru, Riau.

Heni sudah sering memfasilitasi pembelajaran daring dengan memanfaatkan aplikasi Zoom. Namun tingkat partisipasi siswa sangat rendah. Rata-rata yang ikut tidak lebih dari 10 dari 33 siswa.

“Kendalanya, ada siswa yang punya hp namun harus bergantian dengan kakaknya yang di SMP atau hp harus menunggu orangtuanya pulang bekerja. Jadi sangat tidak efektif,” kata Heni.

Untuk menyiasatinya, Heni mengajak orangtua dan siswa menyelenggarakan pembelajaran di akhir pekan. Tujuannya untuk memperkaya penguasaan materi pembelajaran siswa.

Baca juga: Mengembalikan Roh Pendidikan lewat Pedagogi Belajar Daring dari Rumah

Semangat belajar di akhir pekan

“Kalau hari Minggu HP orangtua bisa dipinjam anak-anak untuk belajar. Selain itu, anak-anak yang punya kakak di SMP tidak terganggu. HP di hari Minggu bisa mereka pinjam untuk belajar,” ungkap Heni lebih jauh.

Mayoritas wali murid SDN 25 Pekanbaru bekerja sebagai pedagang dan buruh serabutan. Hanya sedikit yang bekerja sebagai pegawai tetap.

Meskipun pembelajaran di lakukan di hari Minggu dan dilakukan di rumah masing masing, Heni sebagi guru tetap mengenakan seragam dinas dan para siswa pun mengenakan seragam merah putih. Hal ini bertujuan untuk memberikan suasana hangat seperti belajar di kelas.

Lebih jauh Heni menceritakan, meski dilakukan pada akhir pekan tidak seluruh siswa bisa turut hadir.

"Itupun sempat putus nyambung internetnya," cerita Heni. "Anak anak lain kemungkinan tidak memiliki kuota internet, atau orangtuanya tetap bekerja di hari Minggu," tambahnya.

Meski cukup sulit  menjangkau seluruh siswa belajar secara daring, Heni mengaku ketrampilan guru mengombinasikan pembelajaran daring, luring menjadi pembelajaran blended cukup menguras tenaga dan pikiran.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X