Kompas.com - 16/09/2020, 07:49 WIB
Jumeri memberikan statemen dalam rangka penyelenggaraan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Tahun 2020 secara virtual, Jumat (4/9/2020). Tangkapan layar Zoom KemendikbudJumeri memberikan statemen dalam rangka penyelenggaraan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Tahun 2020 secara virtual, Jumat (4/9/2020).
|

KOMPAS.com - Di abad ke-21, ada banyak perubahan dan perkembangan. Terlebih di bidang teknologi dan informasi. Hanya saja, dengan kemudahan yang ada itu menjadikan generasi muda juga berubah.

Agar generasi muda tangguh dan siap menghadapi tantangan, maka lingkungan pendidikan harus menyiapkan dengan baik. Salah satunya membekali generasi muda dengan pembentukan karakter.

Pembentukan karakter itu paling tepat ada di tingkat SMP. Sebab, siswa mulai berpikir untuk menentukan dan melangkah seperti apa dirinya nanti.

Baca juga: Orangtua, Berikut 6 Manfaat Anak Dilibatkan Saat Memasak

Menurut Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, (Dirjen PAUD-Dasmen) Kemendikbud, Jumeri, siswa SMP harus dibentuk karakternya agar berakhlakul karimah, dan berkepribadian baik.

"Karena individu yang baik hanya bisa diperoleh dari lingkungan yang baik," ujar Jumeri pada kegiatan Antisipasi Tindak Kekerasan Peserta Didik Jenjang SMP Angkatan III yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Selasa (15/9/2020) seperti dikutip dari laman Kemendikbud.

3 aspek pembentukan karakter

Dijelaskan, ada tiga aspek yang membentuk karakter seseorang, yakni:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Keluarga atau rumah yang memberi pengaruh sangat besar yaitu 60 persen.

2. Satuan pendidikan yang memberi pengaruh sebesar 25-30 persen.

3. Masyarakat yang memberi pengaruh sebesar 10-15 persen.

Tripusat pendidikan tersebut mempengaruhi pembinaan karakter siswa sehingga harus mendapat perhatian. Jumeri menekankan perlunya kolaborasi semua warga pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang baik tersebut.

"Masing-masing aspek mempengaruhi satu sama lainnya. Pada aspek pertama dan kedua kita masih bisa kendalikan, tapi kalau di level masyarakat akan sulit," tambahnya.

Upaya mencegah kekerasan

Upaya mencegah dan mengatasi tindak kekerasan adalah dengan selalu berpikir dan bertindak positif. Jadi kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan.

Untuk mencegah tindak kekerasan, menurut Jumeri ialah mendorong semua pihak menggalakkan berbagai kegiatan edukatif seperti:

1. Menyiapkan program sekolah yang ramah anak, menyenangkan, dan model pembelajaran yang mengarah pada pembinaan karakter peserta didik.

2. Meningkatkan fasilitas sekolah yang dapat memonitor seluruh sudut sekolah dengan baik.

"Sudut sekolah yang tidak terlihat seperti kamar mandi, rawan menjadi tempat tindak kekerasan," kata Jumeri.

3. Giatkan program yang mampu meningkatkan pemahaman tentang persaudaraan, hati nurani, toleransi, ketulusan, dan kejujuran seperti ekstrakurikuler, dan kegiatan lain yang positif.

4. Libatkan orang tua dalam memecahkan problematika pembelajaran. "Jangan sampai ada pandangan kalau orang tua diundang ke sekolah hanya karena masalah uang atau karena putra-putrinya ada kasus di sekolah," ucap Jumeri.

Baca juga: Siswa, Yuk Mengenal Situs Manusia Purba Sangiran

Dengan adanya interaksi antara orang tua dan sekolah, memungkinkan kedua belah pihak mengenal dan memahami karakter dan potensi anak sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai khususnya di tengah pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti sekarang.

"Adakan pertemuan bulanan berupa kelas parenting secara berkala. Di forum itu guru dan orang tua saling bertukar informasi tentang kegiatan sekolah, kendala belajar hingga kondisi peserta didik di rumah," jelas Jumeri.

Semua harus terlibat

Karena itu, Jumeri mengajak orang tua, tenaga pendidik dan para pemangku kepentingan untuk menjadi teladan bagi peserta didik.

Dia yakin, saat keluarga dan satuan pendidikan mampu mempraktikkan keluhuran budi pekerti, maka anak-anak akan mudah untuk mencontoh.

"Hal itu pula yang akan menjadi bekal bagi anak-anak menghadapi tantangan di masyarakat. Itu yang dibutuhkan," tandas Jumeri.

Sedangkan bagi anak-anak, Jumeri berpesan:

1. Agar menjadi agen anti kekerasan di sekolah, serta harus mampu menunjukkan prestasi, kesantunan, kerapihan, dan budi pekerti pada orang lain.

Nanti orang lain juga akan menghargai kita dan akan berpikir seribu kali sebelum melakukan kekerasan.

2. Bergaulah dalam lingkungan yang mengajak kalian berbuat baik.

Baca juga: Orangtua, Ini Tips Mengajarkan Bermain Musik dan Gerak bagi Anak

3. Bentengi diri kalian dengan ilmu yang bermanfaat agar kalian bisa memberi warna bagi lingkungan sekitar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.