Mahasiswa UB: Pakai Enzim Ini, Sampah Plastik Terurai Cepat

Kompas.com - 30/09/2020, 08:25 WIB
Ilustrasi sampah plastik di laut ShutterstockIlustrasi sampah plastik di laut
|

KOMPAS.com - Sampai saat ini, sampah menjadi persoalan tersendiri bagi suatu negara. Sebab, setiap hari masyarakat menghasilkan sampah.

Tak terkecuali sampah plastik. Sampah jenis ini sulit terurai secara alami. Bahkan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar terurai alami.

Terkait sampah plastik, mendorong tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang membuat suatu inovasi. Apa inovasinya?

Baca juga: Mahasiswa UB Temukan Penghemat BBM dari Bahan Alami Ini

Mereka menemukan cara pemanfaatan enzim sebagai pengurai sampah plastik, khususnya plastik PET (Senyawa Kimia Penyusun Plastik).

Manfaatkan enzim cutinase

Adapun metode yang digunakan untuk menguraikan sampah plastik secara cepat dengan memanfaatkan potensi enzim cutinase dari mikroorganisme Fusarium solani.

Menurut Ketua Tim, Isbakhul Lailatil Fibriyah (TIP UB), penelitian mengenai penguraian plastik secara enzimatis sebenarnya sudah ada. Akan tetapi penelitian tersebut memiliki kekurangan yaitu proses penguraiannya kurang stabil.

Untuk itulah, Isbakhul dan Nadyah Eka Nurizza (THP UB) serta Quinnike Aisy Maskurin (THP UB) mencoba memaksimalkan potensi cutinase dari mikroorganisme Fusarium solani dengan metode nanoimobilisasi sebagai pengurai sampah plastik.

"Mekanisme kerja enzim cutinase dalam menguraikan sampah plastik secara umum terjadi lapis demi lapis," ujarnya seperti dikutip dari laman UB, Selasa (29/9/2020).

Dikatakan, sampah plastik sebelum terurai memiliki permukaan yang halus, namun menjadi lebih kasar setelah terurai. Proses tersebut dikarenakan adanya reaksi penguraian secara enzimatis.

Metode nano imobilisasi

Tak hanya itu saja, adanya metode nano imobilisasi juga dapat menjadikan enzim lebih efektif dan efisien dari segi biaya maupun ketahanannya.

Hal tersebut dikarenakan semakin kecil ukuran partikel, maka semakin luas permukaan partikel. Yang artinya, akan banyak enzim yang terikat pada partikel tersebut.

Eka menambahkan, adanya proses nano imobilisasi tersebut diharapkan dapat menjadikan enzim lebih tahan terhadap pengaruh suhu dan pH serta memiliki kemampuan difusi yang lebih tinggi karena permukaan yang lebih luas.

"Selain itu, enzim mampu digunakan berkali-kali dalam proses katalisis sampah plastik PET," imbuh Eka.

Baca juga: Bahan Ini Diteliti Mahasiswa UB untuk Turunkan Obesitas

Ketiga mahasiswa UB tersebut berharap nano imobilisasi cutinase dari Fusarium solani mampu menjadi solusi pada permasalahan penanggulangan sampah plastik PET di Indonesia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X