Kompas.com - 27/11/2020, 11:29 WIB
Saluran irigasi di Kampung Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta yang dahulu dipenuhi sampah kini disulap menjadi tempat budi daya ikan, Kamis (22/10/2020). KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOSaluran irigasi di Kampung Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta yang dahulu dipenuhi sampah kini disulap menjadi tempat budi daya ikan, Kamis (22/10/2020).
|

Vaksin DNA anti Koi Herpes Virus (KHV) mengandung sisipan gen glikoprotein 25 (GP25) yang berasal dari isolat lokal Koi Harpes Virus.

Sedangkan vaksin DNA anti KHV mampu meningkatkan kekebalan dan memproteksi ikan mas saat terjadi wabah.

Dijelaskan, pengembangan vaksin ikan adalah tugas yang menantang, diantaranya karena:

1. Beragamnya jenis penyakit dan spesies ikan budidaya, dengan tingkat keunikan kerentanan ikan terhadap setiap penyakit yang juga berbeda-beda.

2. Penggunaan vaksin dirasa lebih aman daripada penggunaan antibiotik dalam budidaya perikanan.

Ke depannya, untuk mendukung industri akuakultur berkelanjutan, pengembangan vaksin yang berasal dari isolat lokal akan terus dilakukan yang dibarengi dengan pengembangan metode pemberian, evaluasi dan diseminasi.

Metode vaksinasi ikan

Dijelaskan Prof Sukenda, metode vaksinasi ikan dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • injeksi
  • perendaman
  • oral

Pemberian vaksin melalui cara perendaman lebih praktis untuk penerapan pada benih ikan yang masih rentan terhadap serangan penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya masih belum sempurna.

Baca juga: Manfaatkan Waktu Luang, Mahasiswa IPB Coba Bisnis Ini

"Metode infiltrasi hiperosmotik yang kami kembangkan merupakan modifikasi dari metode perendaman untuk mengefektifkan pemberian vaksin," katanya.

Metode ini dilakukan dengan menggunakan media yang dibuat hipertonik dari tubuh ikan dengan memberikan kejutan salinitas sehingga jumlah vaksin yang diserap lebih banyak.

"Hasil penelitian menunjukkan vaksinasi ikan nila secara infiltrasi hiperosmotik dengan kejutan salinitas sampai 20 gram perliter selama lima menit mampu meningkatkan proteksi ikan terhadap serangan bakteri S. agalactiae," jelas Prof. Sukenda.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.