Melawan Stigma "Anak Gifted", Noble Academy: Perlu Penanganan Khusus

Kompas.com - 30/11/2020, 12:37 WIB
Inisiator dan Director Noble Academy Jakarta, Nancy Dinar dalam acara media conference, Podomoro City, Jakarta Barat, Jumat (20/11/2020).
DOK. NOBLE ACADEMYInisiator dan Director Noble Academy Jakarta, Nancy Dinar dalam acara media conference, Podomoro City, Jakarta Barat, Jumat (20/11/2020).

Nilai raportnya selalu pas-pasan. Ia tak pernah serius mengerjakan tugas yang diberikan atau tak mau menyelesaikannya. Joel juga memiliki penilaian negatif terhadap guru dan sekolah. Ia sering menyalahkan mereka untuk nilai-nilainya yang rendah.

Menurutnya, pelajaran sekolah membosankan dan para guru tak cukup pandai.

Padahal, Joel merupakan remaja yang sangat kreatif dan produktif. Setidaknya sudah ada 6 karya ilmiahnya yang dituangkan dalam bentuk buku antara lain; "Effects of Climate Change Science Report", "Portopolio ART", "Projects", "Portopolio Language Arts", "Portopolio Psychology", "Project 49".

 

Psikolog dari Universitas Surabaya (Ubaya) Evy Tjahjono menyampaikan anak dengan talenta kecerdasan secara intelektual secara sosial ingin berada dalam kelompoknya. Namun, seringkali mereka "tidak nyambung" dengan rekan sebayanya.

"Anak-anak jenius ini punya ketidaksejajaran antara kemampuan mental mereka dengan emosional. Inilah yang membuat anak-anak gifted itu seringkali frustasi dengan kehidupan," ungkap Evy.

Ia melanjutkan, "mereka sudah bisa memikirkan jauh ke depan sementara orang lain belum memikirkannya tapi banyak yang tak memahami dirinya."

"Sungguh ini suatu kelebihan bukan kekurangan. Anak-anak ini sebuah anugerah karena ia punya potensi lebih yang diberikan Tuhan. Saya yakin dengan kelebihan yang mereka miliki, mereka dapat mengubah dunia," tegas Evy.

Baca juga: Pentingnya Pendidikan dan Sekolah Khusus untuk Anak Gifted

Menyiapkan era revolusi industri 4.0

Inisiator dan Director Noble Academy Jakarta, Nancy Dinar menceritakan motivasinya mendirikan lembaga pendidikannya dilatarbelakangi keresahan sebagai seorang ibu dengan anak gifted.

"Dua anak saya cukup cerdas mereka tak bisa mengikuti pelajaran di sekolah biasa. Akhirnya saya buka lembaga pendidikan ini Noble Academy. Kurikulumnya dua yaitu kurikulum Nasional indonesia dan kurikulum Nasional Amerika," ungkap Nancy.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X