Kompas.com - 26/02/2021, 19:46 WIB
Ilustrasi masker kain, masker Shutterstock/EvergreentreeIlustrasi masker kain, masker

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 mengharuskan hampir semua orang kini menggunakan masker. Namun, tingginya pemakaian masker medis dan masker sekali pakai lainnya menyumbang peningkatan limbah medis dan pencemaran lingkungan.

Meski ada alternatif penggunaan masker kain atau masker yang bisa dipakai berulang, namun masker kain didapati kurang efektif menahan virus dari droplet maupun aerosol.

Itulah mengapa, penggunaan masker medis tetap menjadi rekomendasi untuk menekan laju penularan Covid-19.

Kian meningkatnya limbah masker medis mendorong lima mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengembangkan gagasan penelitian mengenai masker kain dengan efektivitas yang serupa dengan masker medis.

Baca juga: Mahasiswa Dapat Rp 9 Juta Per Semester, Ini Cara Daftar KJMU 2021

Masker dibuat dengan kombinasi katun 60 persen dan poliester 40 persen serta dilapisi dengan lapisan grafena dari sekam padi. Ide ini diwujudkan melalui riset yang masih berbasis literatur.

Juara tingkat internasional

Lima mahasiswa tersebut antara lain Rifky Adhia Pratama (Kimia), Riska Kurniawati (Biologi), Farrel Radhysa Muhammad Zahdi (Biologi), Didi Permana (Fisika), Muhammad Naufal Ardian (Fisika). Dibantu tiga dosen pembimbing yakni Diana Rakhmawaty Eddy, Allyn Pramudya Sulaeman dan Yudha Prawira Budiman.

Rifky dan tim mengangkat riset literatur ini ke ajang internasional “ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair” pada Januari-Februari 2021.

Baca juga: Dibuka, Magang Bakti BCA 2021 untuk Lulusan SMA/SMK-D3

Hasilnya, tim berhasil memperoleh medali emas dan penghargaan “Best Innovation” untuk kategori inovasi sains dan lingkungan berdasarkan hasil kompetisi yang diumumkan secara virtual, Selasa (23/2) lalu.

Sebanyak 505 peserta dari 20 negara mengikuti kompetisi penemuan virtual yang diinisiasi lembaga Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan lembaga saintis lainnya dari berbagai negara.

Rifky selaku ketua tim menjelaskan, masker tersebut diyakini mampu menghambat droplet dan aerosol dari luar. Apalagi dengan ditambah dengan adanya grafena yang dilapis di bagian permukaan masker.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X