Kompas.com - 28/02/2021, 14:47 WIB
Pemuka agama menjalani vaksinasi Covid-19 Sinovac di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (25/2/2021). Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan ini menargetkan vaksinasi 10 ribu tokoh agama. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPemuka agama menjalani vaksinasi Covid-19 Sinovac di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (25/2/2021). Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan ini menargetkan vaksinasi 10 ribu tokoh agama.
|

KOMPAS.com - Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia terus berjalan. Selain bagi tenaga kesehatan, vaksinasi juga mulai diberikan bagi guru maupun tenaga kependidikan.

Bahkan nanti akan menyasar seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini agar program vaksinasi bisa sukses melawan pandemi Covid-19.

Di Inggris, penanganan Covid-19 dapat terlihat dengan adanya vaksinasi. Ada penurunan infeksi yang signifikan setelah dilakukan vaksinasi.

Demikian diungkapkan Peneliti dari The National Institute for Health Research (NIHR) dr. Asri Maharani, MARS., Ph.D., pada webinar gelaran Universitas Brawijaya (UB).

Baca juga: Komisi X DPR: Guru Honorer Juga Harus Dapat Vaksin

"Risiko masuk RS turun 40 persen dan risiko meninggal turun 56 persen," terangnya seperti dikutip dari laman UB, Minggu (28/2/2021).

Vaksinasi harus dipercepat

Dikatakan, meskipun Covid-19 merupakan kasus yang masih baru, namun belajar dari penyakit terdahulu, seperti difteri, pertusis, atau campak, dr. Asri menilai vaksin sangat efektif mengurangi jumlah kasus sampai pada jumlah yang sangat kecil, sampai kemudian menghilang.

"Jadi kalau mau pandemi cepat selesai ya memang vaksinasi harus cepat dilakukan," imbuhnya.

Sementara itu, narasumber lain Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia dr. Daeng M. Faqih, SH., MH., mengatakan, terkait keamanan vaksin, penelitian vaksin telah teruji secara ilmiah, serta dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

Penelitian vaksin dilakukan pada tingkat keterbuktian ilmiah paling tinggi, atau meta-analisis dari berbagai uji klinik dengan hasil yang signifikan.

"Setiap tahapannya terdokumentasi secara transparan dan terbuka, karena ada kewajiban untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah yang kredibel, serta diserahkan ke data global WHO. Karena WHO yang memonitor dan mengontrol," paparnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X