Hari Perempuan Internasional, dari Margaret Thatcher ke Ibu Guru Sairah

Kompas.com - 08/03/2021, 17:25 WIB
Hari Perempuan Internasional 2021 atau International Women's Day 2021 UN Women/Yihui YuanHari Perempuan Internasional 2021 atau International Women's Day 2021

Oleh: Armiwati | Dosen FKIP Universitas Jambi, Fasdos Tanoto Foundation

KOMPAS.com - Dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, dunia lebih mudah mengenang dan mengenang sosok heboh dan luar biasa dari "Wanita si Tangan Besi" Margaret Thatcher dari Inggris, Corazon Aquino dari Filipina, atau Aung San Suu Kyi dari Myanmar.

Namun jauh di Desa Santanamekar Cisayong di tanah Pasundan juga dikenal "perempuan bertangan besi", Mak Eroh peraih Kalpataru.

Dengan kegigihannya, tangannya seperti besi menggali bukit batu untuk saluran air sepanjang lima kilometer melintasi perbukitan di lereng Gunung Galunggung pada 1987.

Kondisi sulit dialami warga tidak ada sumber air untuk persawahan teratasi dengan sempurna menjadi ijo royo-royo.

Mak Eroh telah terlebih dahulu berjuang, "mencuri start" sebelum orang lain memulai. Namun, hampir tidak pernah dikenal. Mak Eroh adalah perempuan tangguh pejuang hajat hidup orang banyak. Mak Eroh pejuang sumber air untuk pertanian dan kehidupan.

Menghadirkan sekilas contoh yang sangat kecil perempuan istimewa dan ibu sebagai tokoh impersonal yang mengingatkan kita bahwa banyak perempuan di luar sana yang namanya hampir tidak dikenal adalah pejuang pendidikan baik formal maupun informal.

Baca juga: Hari Perempuan Sedunia 2021, Ini Tema dan Sejarahnya

Membangun kecerdasan afektif

Salah satunya adalah Ibu Guru Sairah pejuang pendidikan formal, sekaligus pejuang informal Bahasa Ibu. Sairah merupakan Guru SDN 1 Simpang Sender, dusun damai yang diapit dua provinsi yang bertetangga Lampung dan Sumatra Selatan.

Disitulah Ibu Guru Sairah mengabdikan hidupnya sebagai guru, dengan setia menunggu siswa kelas awal untuk berangkat bersama ke sekolah melewati beberapa dusun.

Memutar beberapa kali menelusuri jalan setapak mendaki dan menurun harus dijalani untuk menghindari sungai kecil berarus deras.

Setiap pagi wajah cerianya dan suara riuh menghiasi jalan setapak dusun demi dusun menuju sekolah. Saat siswa memasuki kelas tinggi, senyum sumringah Sairah melambaikan tangan berpisah di simpangan jalan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X