Kompas.com - 23/03/2021, 21:54 WIB
Mariyah, Ketua FPPTI dalam Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2021 ?Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi Dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural? secara virtual pada Selasa (23/3/2021). DOK. PERPUSNASMariyah, Ketua FPPTI dalam Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2021 ?Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi Dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural? secara virtual pada Selasa (23/3/2021).

KOMPAS.com -Indonesia peringkat kedua negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak dunia yakni 164.610 perpustakaan dengan jumlah perpustakaan perguruan tinggi (PT) sebanyak 6.552 (3,98 persen).

Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memaksa perpustakaan perguruan tinggi mengatur layanan dan akses secara daring. Kebijakan Kampus Merdeka, juga  membuat bahan bacaan di perguruan tinggi harus dapat diakses bersama dengan mahasiswa dari perguruan tinggi afiliasi.

Di sinilah kemudian peran Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) menjadi makin penting wadah kerja sama perpustakaan perguruan tinggi yang berkarakter, unggul, berintegritas, terpercaya, dan mempunyai reputasi di tingkat nasional, regional, dan internasional.

Ketua Umum FPPTI, Mariyah mengatakan kegiatan proses pembelajaran di luar program studi selama tiga semester dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran dan lulusan pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan zaman dan kebutuhan dunia industri atau kerja.

"Pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap pengadaan bahan bacaan, layanan, dan ekonomi Indonesia," katanya pada Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2021 “Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi Dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural” secara virtual pada Selasa (23/3/2021).

"Anggaran pengadaan bahan bacaan dikurangi karena dana dialokasikan untuk penyediaan protokol kesehatan (Covid-19)," ungkapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Perangi Hoaks, Edukasi Literasi Media Dibutuhkan untuk Tingkatkan Kemampuan Kritis Masyarakat

Membangun budaya menulis di PT

Lebih jauh Mariyah menjelaskan, standar bahan bacaan di perguruan tinggi adalah koleksi (bahan bacaan) di perpustakaan perguruan tinggi harus memenuhi keragaman jenis koleksi, jumlah yang tersedia dan pengembangannya.

Jenis koleksi tercetak dan digital, karya rekam untuk koleksi buku wajib mata kuliah, bacaan umum, referensi, terbitan berkala, muatan lokal, laporan penelitian dan literature kelabu.

Menurutnya jumlah bahan bacaan (koleksi) buku wajib mata kuliah 3 judul, buku pengayaan 2 kali buku wajib, jurnal ilmiah 2 judul per program studi, majalah ilmiah minimal 1 judul per program studi, koleksi audio visual dan e-resources disesuaikan dengan kebutuhan dan lokal konten (karya ilmiah sivitas akademika).

“Selain itu penambahan jumlah dan jenis bahan bacaan setiap tahunnya minimal 3 persen dari total koleksi yang ada," ujarnya,

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.