Kompas.com - 07/04/2021, 12:42 WIB
Logo halal mui Dok. MUI Logo halal mui
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Kepala Halal Science Center (HSC) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Khaswar Syamsu menyatakan, populasi muslim di Indonesia sangat besar bila dibanding negara lain.

Maka dari itu, kata dia, produk halal sangat diperhatikan dan menjadi hal yang sensitif diperbincangkan.

Baca juga: Pakar IPB: Ini Cara Kurangi Permasalahan Anak

Berdasarkan laporan ekonomi Islam Global 2017/2018, Indonesia menjadi peringkat pertama sebagai konsumen produk makanan halal.

Namun berada di peringkat ke 10 dalam hal produksi makanan halal.

Artinya, Indonesia selama ini banyak menjadi target pasar produk halal dari pada menjadi pemain utama dalam produksi dan ekspor produk halal.

"Padahal Indonesia punya potensi untuk memproduksi produk halal," ucap dia melansir laman IPB, Rabu (7/4/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia mengaku, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu penopang penting perekonomian Indonesia dan penyedia terbesar produk yang dikonsumsi masyarakat.

Kontribusi UMKM pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, sebut dia, mencakup 99 persen jumlah unit usaha. Meningkat pesat setiap tahunnya dan mencapai 64 juta di tahun 2020.

Lalu, total kontribusi UMKM pada perekonomian nasional sebesar 60 persen, sebesar 97 persen ke penyerapan tenaga kerja, sebesar 58 persen dari total investasi, dan sebesar 14 persen dari total ekspor.

Baca juga: Turunkan Berat Badan Tanpa Bahayakan Kesehatan ala Pakar IPB

Maka, lanjut dia, peluang untuk memproduksi produk halal yang sudah terverifikasi sangat tinggi dan menjadikan produksi produk halal di Indonesia meningkat.

"Jadi Indonesia tak hanya unggul sebagai negara konsumen produk halal saja namun unggul juga dalam hal produksi produk halal," tutur Khaswar.

Cara memperoleh sertifikat halal MUI

Dia menuturkan, bagi pelaku UMKM yang ingin mengajukan sertifikasi halal, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, sebagai berikut:

1. Perlu melakukan registrasi ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) secara offline, bisa juga melalui LPPOM MUI dengan registrasi online.

2. Setelah itu masuk ke komisi fatwa dan dibuatkan surat.

3. Surat dari komisi fatwa yang menjadi dasar BPJPH untuk memberikan sertifikat halal MUI.

Cara membuat produk halal

Dia menyebut, untuk mencapai produk halal pun perlu diperhatikan mulai dari bahan yang halal, terlepas dari hewan-hewan atau apapun yang sudah jelas keharamannya.

Hewan halal juga perlu diperhatikan mulai dari penyembelihannya, agar tetap sesuai syariat Islam.

Baca juga: 6 Tips Bersihkan Rumah agar Terhindar Covid-19 dari Pakar IPB

"Lalu fasilitas produksi yang tidak terkontaminasi bahan haram/najis dan menjadi output berupa produk halal," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.