Kompas.com - 10/04/2021, 11:43 WIB

Webinar Mendesain Praktik Mengajar Calon Guru yang digelar Tanoto Foundation dan The National Institute of Education (NIE) Singapura, Kamis (8/4/2021).

DOK. TANOTO FOUNDATION Webinar Mendesain Praktik Mengajar Calon Guru yang digelar Tanoto Foundation dan The National Institute of Education (NIE) Singapura, Kamis (8/4/2021).

KOMPAS.com - Guru berkualitas harus mampu berpikir otonom dan mampu meningkatkan kapasitasnya secara berkelanjutan. Kemampuan inilah yang dikembangkan oleh Singapura dalam mencetak guru profesional berkelas dunia.

Mereka terbukti telah berhasil menempatkan siswanya meraih prestasi terbaik pada tes Program International Student Assessment (PISA) dalam kemampuan membaca, sains, dan matematika.

Menurut Prof. Liu Woon Chia, guru besar The National Institute of Education (NIE) Singapura, salah satu faktor sukses mereka bisa mencetak guru-guru berkualitas adalah adanya komunikasi yang kuat antara NIE dengan stakeholders seperti kementerian pendidikan dan sekolah dalam mendesain kegiatan praktik mengajar yang efektif untuk calon guru.

“Kegiatan praktik atau pengalaman di lapangan selama periode pendidikan guru, merupakan kesempatan terbaik untuk calon guru berkembang menjadi guru berkualitas,” ungkap Prof. Liu saat berbagi pengalaman dalam webinar "Mendesain Praktik Mengajar Calon Guru" yang digelar Tanoto Foundation, Kamis (8/4/2021).

Baca juga: VIK Virion Guru Avan, Komik tentang Covid-19 dan Kesenjangan Digital untuk Anak

Seleksi ketat dan berkualitas

Guru adalah salah satu karier profesional di Singapura. Hanya kandidat terbaiklah yang bisa menjadi guru. Memberikan gaji yang tinggi bukan satu-satunya faktor yang mendorong orang tertarik menjadi guru.

Singapura menjadikan guru sebagai profesi terhormat dan didengar pendapatnya. Hal itu yang membuat banyak kandidat terbaik yang melamar menjadi guru.

Beda halnya dengan Indonesia yang memiliki ribuan LPTK, Singapura hanya memiliki satu LPTK, sehingga jalur masuk untuk menjadi guru terbilang ketat. "Kurang lebih hanya sekitar 30 persen calon guru yang diterima di NIE," ungkap Prof. Liu.

Materi kuliah pembelajaran daring 

Meski Singapura dapat mengatasi situasi pandemi dengan baik, Prof. Liu mengaku adaptasi tetap diperlukan ketika merancang desain kegiatan praktik untuk para calon guru selama pandemi.

“Selama pandemi kami memberikan beberapa model perkuliahan daring untuk para calon guru agar mereka dapat memutuskan untuk melakukan pendekatan apa ketika sedang praktik di lapangan,” tambahnya.

Pembelajaran daring sudah menjadi materi perkuliahan bagi mahasiswa calon guru. Sekarang belajar dari rumah merupakan bagian pembelajaran setiap sekolah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X