Kompas.com - 10/04/2021, 11:27 WIB
Gelar wicara Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Sumatera Selatan yang diselenggarakan Perpusnas dan Dinas Perpustakaan Sumsel di Palembang, Sumsel, (8/4/2021). DOK. PERPUSNASGelar wicara Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Sumatera Selatan yang diselenggarakan Perpusnas dan Dinas Perpustakaan Sumsel di Palembang, Sumsel, (8/4/2021).

KOMPAS.com - Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya menyatakan perpustakaan merupakan hal esensial sebagai sumber ilmu, dan menyimpan sejarah bangsa yang bernilai. Namun, ia menyayangkan masih ada sejumlah kabupaten/kota yang menganggap perpustakaan tidak penting.

"Ini tantangan bagi kita semua. Jangan salahkan masyarakat kalau ada daerah yang tidak menyediakan perpustakaan," tegas Mawardi dalam gelar wicara "Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Sumatera Selatan" yang diselenggarakan Perpusnas dan Dinas Perpustakaan Sumsel di Palembang, Sumsel, (8/4/2021).

Bahkan, Mawardi mengantongi data kalau di beberapa kabupaten/kota di Sumsel tidak diketahui di mana bangunan perpustakaannya. Yang dikenal hanya kantornya saja.

“Tugas bersama mengingatkan bupati, kepala daerahnya di setiap kabupaten. Apalagi kadang-kadang mobil perpustakaan keliling, tidak ada. Bagaimana akan sukses apabila kita tidak sediakan fasilitasnya. Ini menjadi tugas bersama ke depan,” ujarnya mengingatkan.

Baca juga: Minat Baca Netizen Turun, Lebih Banyak Komen dan Update Status

Rasio buku belum ideal

Dalam kesempatan sama, Deni Kurniadi (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas) menyampaikan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam penguatan minat baca.

"Ini adalah tugas bersama untuk pembudayaan kegemaran membaca antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, " ujarnya.

Deni menyampaikan data jumlah bacaan yang beredar yang dimiliki perpustakaan umum di Indonesia hanya 22.318.083 eksemplar. Rasio antara buku dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa adalah 0,098. Angka yang masih sangat jauh dari ideal.

Demi mengejar kondisi ideal, Perpusnas terus berupaya menjalin sinergi dengan para pemangku kepentingan untuk menguatkan sisi hulu literasi. Penguatan sisi hulu literasi harus dilakukan agar sisi hilir literasi yakni budaya baca dan indeks literasi mengalami peningkatan.

Penguatan pada sisi hulu melibatkan peran negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI/Polri), pengarang/penulis buku, penerbit/perusahaan rekaman, dan penerjemah/penyadur sangat dibutuhkan untuk menjamin terbitnya regulasi yang mengatur distribusi bahan bacaan untuk memperkecil ketimpangan antarwilayah serta tersedianya anggaran belanja buku di setiap daerah.

Untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, Perpusnas menyediakan layanan daring yang bisa diakses setiap saat dan gratis, di antaranya perpustakaan digital iPusnas, laman jurnal elektronik di e-Resources, serta laman yang berisikan naskah kuno Nusantara, yakni Khastara.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X