Kompas.com - 25/04/2021, 19:26 WIB
Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK) pada Sabtu, 10 April 2021 dan diikuti 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia. DOK. Cetta SatkaaraWebinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK) pada Sabtu, 10 April 2021 dan diikuti 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia.

KOMPAS.com - Geostrategis Indonesia yang berada dalam rangkaian tiga lempeng Eurasia, Indoasia dan Pasifik menjadi faktor seringnya terjadi bencana alam. Bencana alam ini, tentunya juga memberi dampak pada pendidikan di lokasi rawan bencana.

Data Kemendikbud 2017, mencatat 250.000 berada di wilayah risiko tinggi multi bencana, baik gempa bumi, tsunami atau bencana alam lain. Ketika bencana melanda, bukan hanya bangunan sekolah roboh, kegiatan berkaitan pendidikan pun praktis terhenti.

Dampak bencana tidak kalah penting dan seringkali luput dari perhatian adalah gangguan kejiwaan (psikologis) pada anak atau biasa disebut trauma. Berbeda dengan biaya kerusakan secara sosial atau ekonomi yang dapat dihitung, dampak psikologis anak pascabencana tidak dapat diprediksi waktu, durasi serta intensitasnya.

Terpanggil menjawab tantangan tersebut, Cetta Satkaara bersama Rumah Guru BK (RGBK) mencetuskan program edukasi pemulihan/peyembuhan trauma pascabencana.

“Sebagian orang berfokus hanya pada luka fisik dan menekankan pentingnya kehadiran bantuan medis saat bencana terjadi. Belum banyak yang memahami bahwa ada luka emosional, terutama pada anak yang sama sakitnya dan butuh perhatian lebih untuk ditangani,” ungkap Ruth Andriani, Co Founder dan Senior Advisor PT Cetta Satkaara.

Melalui rilis resmi (25/4/2021), Ruth menjelaskan, inisiatif ini diwujudkan dalam webinar "Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik" yang berlangsung pada Sabtu, 10 April 2021 secara virtual melalui platform zoom.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Webinar ini diikuti 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia dan menghadirkan pembicara Christina Dumaria Sirumapea (Psikolog Klinis Dewasa dan Associate Assessor di TigaGenerasi) serta Ana Susanti (Founder RGBK dan Widyaiswara Kemendikbud).

Baca juga: Pelatihan Guru Fisika, Upaya UNPAR Hadirkan Proses Belajar Menarik di Kelas

Empat landasan pendampingan

Salah satu pokok bahasan penting yang disampaikan Christina dalam paparannya adalah mengenai Psychological First Aid (PFA) bagi korban bencana. Perempuan yang akrab disapa Ina ini menjelaskan bahwa PFA dibagi menjadi empat landasan yakni prepare, look, listen dan link.

“PFA itu dukungan praktis layaknya kotak obat darurat yang bisa digunakan orang awam untuk membantu sementara dalam penanganan korban pasca bencana agar lebih tenang dan aman. Namun untuk tahap lanjutannya tetap harus ditangani oleh profesional yaitu psikolog atau dokter,” ujar Ina.

Adapun empat landasan PFA meliputi; Prepare yakni pengamatan situasi kemanan, gejala serta bantuan yang dibutuhkan korban. Look adalah pendekatan sebagai pendengar aktif untuk membantu korban menenangkan diri.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.